Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Ringkasan 'Takdir Adalah Sesuatu yang Harus Dibuka Sendiri' karya Kōda Rohan — Qadar dan Ikhtiar dalam Esai Meiji-Taisho
Esai Kōda Rohan tentang takdir dan kehendak bebas, ditulis ~1917-1920. Setengah hidup digariskan kodrat, setengahnya ditempa diri sendiri. Pesan yang akrab di telinga pembaca Indonesia.
Pagera Editorial
Ringkasan "Takdir Adalah Sesuatu yang Harus Dibuka Sendiri" — Kōda Rohan tentang Qadar dan Ikhtiar
Bayangkan dua bayi yang baru lahir di hari yang sama. Yang satu lahir di rumah bangsawan Meiji yang serba berlimpah; yang lain lahir di pondok reyot dari seorang ibu yang ditinggal suaminya merantau entah ke mana. Kedua bayi itu belum sempat berbuat baik maupun jahat. Namun sejak detik pertama hidup mereka, takdir keduanya sudah berbeda jauh. Mengapa? Dan, lebih penting lagi: apakah selama-lamanya akan begitu?
Inilah pertanyaan yang dibuka oleh Kōda Rohan (幸田露伴, 1867–1947) dalam esai-ceramahnya yang ringkas namun padat ini. Disampaikan dengan suara tenang seorang sarjana Konfusianisme Meiji-Taisho, "Takdir Adalah Sesuatu yang Harus Dibuka Sendiri" (運命は切り開くもの) menjadi salah satu teks paling kuat tentang qadar dan ikhtiar dalam khazanah pemikiran Jepang awal abad ke-20.
Inti Ajaran: Setengah-Setengah
Rohan menolak dua kutub ekstrem. Ia menolak fatalisme buta yang berkata: "Semua sudah tertulis, kita tinggal menjalani." Tetapi ia juga menolak voluntarisme angkuh yang berkata: "Takdir tidak ada — aku adalah penulis tunggal hidupku." Kedua-duanya, kata Rohan, adalah dusta.
"Bolehlah kita katakan bahwa separuhnya telah ditetapkan; akan tetapi separuh lainnya boleh kita katakan baik atau buruk seturut pendirian hati dan perbuatan."
Setengah hidup kita — kelahiran, rupa, keluarga, zaman, perawakan tulang — datang sebagai warisan kodrat alam. Rohan menyebutnya takdir bawaan (先天的運命 senten-teki unmei). Setengahnya lagi — apa yang kita bangun lewat pendirian hati dan tindakan — itulah takdir yang dibentuk kemudian (後天的運命 kōten-teki unmei).
Tiga Bukti Singkat
Untuk menunjukkan bahwa fatalisme itu keliru, Rohan menarik bukti dari tiga arah:
Pertama — bukti dari astrologi. Cerita populer bahwa Sima Yi tahu Zhuge Liang wafat karena melihat bintang besar jatuh memang menarik, kata Rohan, "tetapi tentu saja hanyalah cerita belaka." Kalau setiap manusia benar-benar berpadanan dengan satu bintang, jumlah bintang di langit harus sama dengan jumlah manusia di bumi. Dan ketika Bai Qi membantai empat ratus ribu prajurit Zhao yang menyerah — apakah keempat ratus ribu orang itu semuanya lahir di tahun dan bulan yang sama? Begitu juga tenggelamnya Lusitania (1915) dan gempa besar Kantō (1923).
Kedua — bukti dari fisiognomi. Komachi yang jelita berakhir tragis sebagai pengemis tua dalam drama Noh Sotoba Komachi. Wuyan-jun yang buruk rupa justru jadi permaisuri yang bijaksana. Ibunda Laozi konon perempuan paling buruk rupa di zamannya. Konfusius pernah mengira Tantai Ziyu yang berwajah biasa tidak akan jadi apa-apa — lalu menyesal seumur hidup ketika murid itu jadi salah satu yang termulia.
Ketiga — bukti dari perubahan. "Perawakan berubah-ubah," kata Rohan. Orang yang mabuk anggur, dalam satu-dua jam saja air mukanya sudah lain. Orang yang lama memendam niat jahat, perawakannya menjadi buruk. Orang yang konsisten menyimpan kasih sayang, "secara alami semerbaknya akan menyingsing dari dalam dirinya dan ia menjadi indah." Jika rupa saja berubah seturut hati, mengapa takdir tidak?
Pesan untuk Pembaca Indonesia
Bagi pembaca Indonesia, esai ini terasa akrab. Konsep yang Rohan beri nama senten-teki unmei dan kōten-teki unmei sebenarnya tidak jauh dari kerangka qadar (takdir mutlak) dan ikhtiar (usaha manusia) dalam teologi Islam mainstream. Rohan menulis dari tradisi Konfusianisme dan Tao, mengutip Sima Yi, Wang Chong, Xunzi, Laozi, Konfusius, Guan Zhong, bahkan Alkibiades dari Yunani — namun kesimpulannya menemui kita di tengah jalan:
"Membuka takdir yang dibentuk kemudian dengan menempa diri sendiri … itulah yang disebut manusia yang sungguh mulia."
Mereka yang meninggalkan kilau di lembar sejarah, kata Rohan, hampir semuanya adalah orang-orang yang membuka takdir mereka sendiri. Bukan dengan menyangkal apa yang sudah diberikan, bukan pula dengan pasrah kepadanya — melainkan dengan terus melangkah, sabar dan tekun, di antara kedua hal itu.
Kalimat Penutup yang Patut Direnungkan
Rohan menutup esainya dengan satu ungkapan yang menurutnya "sungguh setia kepada kita semua":
"Ketimbang memikirkan 'bagaimana seharusnya kita ada', lebih bijak dan benar memikirkan 'apa yang seharusnya kita lakukan.'"
Inilah inti Rohan: pertanyaan tentang takdir bukan pertanyaan metafisis yang menggantung, melainkan pertanyaan tindakan harian. Hari ini, apa yang akan saya lakukan?
Baca terjemahan lengkap "Takdir Adalah Sesuatu yang Harus Dibuka Sendiri" karya Kōda Rohan: Pagera Indonesia — Takdir
Esai ini tersedia gratis di Pagera. Terjemahan bersih dari aksara Jepang Meiji-Taisho ke bahasa Indonesia yang mengalir, lengkap dengan glosarium nama tokoh klasik Tiongkok dan Yunani.