Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

'Kreativitas dan Akal' — Frasa Klise Masa Perang yang Disindir Habis-habisan oleh Dazai

Analisis tema 'sōi kufū' (創意工夫, kreativitas dan akal) dalam sketsa Dazai 'Yannuru kana'. Frasa ini muncul tujuh kali dan menjadi sasaran kritik halus terhadap retorika klise masa perang Jepang. Dazai berhasil menghancurkan satu slogan propaganda dengan satu seruan kanbun klasik dan tiga buah labu.

Pagera Editorial

Slogan Masa Perang yang Diulang Sampai Klise

Sketsa Dazai Yannuru kana (やんぬる哉, sekitar 1944–1945) memuat sebuah pengulangan obsesif yang khas: frasa "kreativitas dan akal" (創意工夫, sōi kufū dalam bahasa Jepang asli) muncul tujuh kali dalam ruang sketsa pendek yang hanya 23 paragraf.

Bagi pembaca Indonesia abad ke-21, pengulangan ini mungkin terasa hanya sebagai pilihan retoris atau ciri gaya. Tetapi untuk pembaca masa Jepang pertengahan 1940-an, sōi kufū adalah salah satu slogan propaganda paling klise dari kampanye penghematan domestik di tengah perang Pasifik. Pemerintah Jepang, melalui Asosiasi Perempuan Patriotik Jepang (Aikoku Fujinkai) dan organ propaganda lain, terus-menerus menyerukan kepada para istri Jepang untuk menggunakan sōi kufū mereka dalam mengatasi kekurangan bahan masa perang — masak dengan substitusi yang kreatif, jahit pakaian dari kain bekas, kembangkan resep dari ubi dan dedak bukannya beras putih.

Tujuh Kemunculan, Tujuh Lapisan Sindiran

Mari kita telusuri tujuh kemunculan frasa "kreativitas dan akal" dalam sketsa Dazai ini:

1) "Bumbunya rasa khas hasil kreativitas dan akal istri saya." (paragraf 15)

Konteks: sang dokter memperkenalkan kabayaki ikan lele — panggang bumbu manis bergaya belut yang dibuat istrinya dari ikan lele murahan. Kabayaki sendiri tradisinya adalah hidangan belut mahal — substitusi dengan ikan lele adalah salah satu inovasi yang dianjurkan oleh propaganda pemerintah.

2) "Kreativitas dan akal nyonya rumah ini." (paragraf 16)

Konteks: narator Dazai menyentuhkan sumpit ke kabayaki ikan lele. Pengulangan kedua memberi kesan bahwa istilah ini sudah mulai jadi mantra dan akan terus diulang.

3) "Ia selalu memunculkan kreativitas dan akal yang baru." (paragraf 21)

Konteks: dimulai monolog panjang sang dokter. Inilah penekanan pertama bahwa istrinya bukan hanya melakukan sōi kufū sesekali — ia melakukannya terus-menerus, sebagai mode hidup.

4) "Itu pada akhirnya karena Anda sendiri tidak punya kreativitas dan akal." (paragraf 21)

Konteks: jawaban istri sang dokter kepada istri pengungsi dari Tokyo. Frasa ini sekarang menjadi senjata retorika yang dipakai untuk menyalahkan korban perang. Inilah twist Dazai: slogan propaganda yang seharusnya membangkitkan semangat, justru dipakai untuk merendahkan sesama korban.

5) "Sisanya itu cuma soal kreativitas dan akal orang itu sendiri." (paragraf 21)

Konteks: penekanan istri dokter tentang bagaimana para pengungsi seharusnya mengelola diri tanpa bergantung pada petani desa.

6) "Soba Amerika hasil kreativitas dan akal istri saya." (paragraf 21)

Konteks: setelah perdebatan dua jam, istri dokter menjamu istri pengungsi dengan soba Amerika — sebutan masa perang untuk soba bertepung jagung. Sebuah ironi: bantuan terakhir yang diberikan kepada tamu setelah dimarahi habis-habisan adalah... satu lagi contoh sōi kufū.

7) "Kreativitas dan akal pun tidak ada." (paragraf 23)

Konteks: di akhir sketsa, Dazai sang narator menunjuk seorang ibu petani yang sedang terhuyung dengan tiga labu di punggung, dan berkata kepada dokter bahwa "biasanya, kebanyakan begitu mengerikan keadaannya, lho. Kreativitas dan akal pun tidak ada." — tanpa tahu bahwa perempuan itu adalah istri sang dokter sendiri.

Inilah klimaks ironi Dazai: frasa yang sama yang dipakai oleh sang dokter untuk mengidealisasi istrinya sebagai kreatif tanpa-banding, dipakai oleh sang narator untuk merendahkan seorang ibu petani — dan ternyata yang dirinya rendahkan itu sebenarnya adalah istri yang dipuji habis-habisan.

Mengapa Frasa Ini Begitu Pas untuk Sindiran?

Sōi kufū (創意工夫) secara harfiah berarti "menciptakan ide baru" + "memikirkan cara baru". Ini adalah frasa kanji-kanji yang terdengar terhormat dan moralistik — bukan frasa sehari-hari biasa, melainkan frasa formal yang biasa dipakai dalam pidato, propaganda, atau khotbah.

Dalam konteks propaganda perang, frasa ini punya fungsi ideologis yang sangat spesifik: ia menggeser tanggung jawab kelangkaan masa perang dari pemerintah ke individu. Daripada mengakui bahwa pemerintah Jepang sedang gagal mengelola ekonomi perangnya, propaganda mengatakan: "Kalau Anda kelaparan, itu karena Anda tidak cukup punya sōi kufū."

Dazai, dengan kepekaan satir tinggi, melihat persis bagaimana frasa ini bekerja di tingkat kehidupan sehari-hari. Sang dokter dalam ceritanya bukanlah pejabat propaganda — ia hanya seorang dokter kota kecil yang merasa pintar. Tetapi cara ia mengulang-ulang frasa propaganda ini, dengan tidak sadar, mengungkapkan bagaimana bahasa propaganda telah meresap ke dalam pidato sehari-hari kelas menengah Jepang masa perang.

Yang lebih halus lagi: sang dokter mengaplikasikan slogan ini secara salah sasaran. Slogan sōi kufū dimaksudkan untuk memberi semangat kepada para istri yang sedang berjuang — bukan untuk membenci pengungsi yang kehilangan rumah karena pengeboman. Tetapi di mulut kelas menengah pinggiran, slogan moralistik dengan mudahnya berubah menjadi senjata untuk merendahkan korban yang lebih sengsara.

Dazai dan Politik Bahasa

Apa yang Dazai lakukan dalam Yannuru kana, secara teknis, adalah kritik bahasa. Ia tidak menyerang pemerintah Jepang secara langsung — itu mustahil di bawah sensor wartime — tetapi ia menunjukkan bagaimana bahasa pemerintah meracuni kehidupan domestik. Dengan mengulang frasa sōi kufū tujuh kali dalam ruang yang sangat sempit, ia memaksa pembaca untuk mendengarnya seperti slogan, bukan seperti pujian tulus.

Inilah teknik yang oleh kritikus sastra disebut defamiliarisasi — membuat sesuatu yang familiar terasa asing dengan mengulangnya berlebihan. Setelah membaca Yannuru kana, sangat sulit bagi pembaca Jepang masa itu untuk mendengar frasa sōi kufū lagi tanpa tersenyum sinis. Dazai berhasil menghancurkan satu slogan propaganda dengan satu sketsa pendek.

Penutup yang Mengubur Slogan: 'Yannuru kana'

Ending sketsa ini sempurna karena ia tidak menyerang slogan sōi kufū secara langsung — ia hanya menunjukkan kontradiksinya. Istri dokter, yang sudah dipuji selama dua jam sebagai dewi kreativitas dan akal, ternyata adalah ibu petani biasa yang terhuyung dengan tiga labu di punggung. Tidak ada kreativitas di sana — hanya kerja keras fisik berat. Tidak ada akal — hanya realitas kelangkaan masa perang.

Dan kemudian datang frasa kanbun klasik: Yannuru kana (已矣哉, "Ah, sudah tidak bisa diapa-apakan!") — sebuah seruan dari bahasa Tionghoa kuno yang biasa dipakai untuk takdir yang tidak bisa diubah. Kontras antara slogan kanbun klasik yang formal (yannuru kana) dan slogan propaganda kanbun modern (sōi kufū) menjadi inti puisi Dazai. Yang satu adalah seruan klasik yang jujur tentang keterbatasan manusia; yang lain adalah slogan modern yang menyamarkan keterbatasan manusia. Dazai memilih yang pertama.

Bagi Pembaca Indonesia

Sketsa Dazai ini terasa relevan di luar konteks Jepang masa perangnya. Setiap masyarakat punya slogan-slogan moralistiknya sendiri — slogan kerja keras, slogan kreativitas, slogan ketahanan — yang sering kali dipakai untuk menggeser tanggung jawab kegagalan sistemik kepada individu yang kebetulan korbannya. Dazai mengajari kita untuk mendengar slogan dengan telinga sinis, dan untuk tidak takut menertawakan bahasa moralistik yang berlebihan.

Baca "Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan" di Pagera

Kembali ke Pagera