Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 7 mnt
Ringkasan 'Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan' (やんぬる哉) karya Dazai Osamu — Sketsa Satir Pengungsian Masa Perang
Sketsa satir autobiografis Dazai Osamu dari masa pengungsiannya di Tsugaru di tengah perang Pasifik. Diundang oleh seorang dokter — eks-teman sekolah yang sombong — untuk sore yang penuh sider apel jatah ransum, kabayaki ikan lele ala belut, dan kuliah panjang tentang 'kreativitas dan akal' sang istri. Ending satu kalimat 'Yannuru kana!' yang menjungkirbalikkan semua idealisme menjadi tiga buah labu di punggung seorang ibu petani yang terhuyung.
Pagera Editorial
Pengantar: Dazai Osamu di Pengungsian Tsugaru
Dazai Osamu (太宰治, 1909–1948) adalah salah satu nama paling karismatik dalam sastra Jepang modern. Dikenal melalui karya-karya tragis seperti Ningen Shikkaku (人間失格, "Gagal Menjadi Manusia") dan Shayō (斜陽, "Matahari Terbenam"), Dazai membangun karier yang ditandai oleh self-loathing yang mendalam, percobaan bunuh diri berulang, dan akhirnya kematian bersama kekasihnya pada 1948.
Tetapi Yannuru kana (やんぬる哉, "Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan") menunjukkan sisi Dazai yang berbeda — sisi yang justru lebih kering, lebih lucu, dan lebih lihai dalam menertawakan dunia. Ditulis pada masa pengungsian sang sastrawan di kota kecil Tsugaru (Prefektur Aomori, kampung halaman keluarganya) di tengah perang Pasifik, sketsa pendek ini adalah salah satu contoh terbaik humor satir Dazai — di mana penghancuran sebuah ilusi diselesaikan dengan satu kalimat klasik dari bahasa Tionghoa: "Yannuru kana!" (已矣哉, "Ah, sudah tidak bisa diapa-apakan!").
Ringkasan Cerita
Sketsa ini terdiri dari 23 paragraf dan sekitar 4.600 kata dalam bahasa Jepang. Berlatar di Tsugaru di masa pengungsian sang penulis (Dazai sendiri dievakuasi dari Tokyo ke kampung halamannya pada 1944–1945), cerita berfokus pada sebuah sore yang ia habiskan secara terpaksa di rumah seorang dokter kota kecil.
Pembuka — sang penulis di Tsugaru. Sejak Dazai datang ke Tsugaru, teman-teman lama dari masa sekolah dasar sesekali mampir berkunjung. Ia mengenang masa-masa SD dengan humor: "Pada zaman sekolah dasar dulu rupanya aku sempat berkibar lumayan di antara teman sekelas," kata seorang anggota dewan kota sambil tertawa, "habis dia kan bos kecil kita dulu." Kontras dengan teman SD yang santai, teman dari masa sekolah menengah justru terasa "anehnya canggung" — mereka justru bergaya menjengkelkan dan sepertinya berjaga-jaga terhadap sang penulis terkenal.
Undangan yang tidak diinginkan. Suatu hari, seorang dokter — yang mengaku-aku sebagai teman sekelasnya semasa sekolah menengah — menelepon dan mengundang Dazai untuk makan malam. Dazai sebenarnya tidak ingat orang ini sama sekali. Untuk menghindari jamuan malam yang akan menyiksanya, ia pergi ke rumah dokter itu di pinggiran kota sesudah tengah hari untuk meminta maaf langsung dan membatalkan undangan.
Sider apel dan kabayaki ikan lele. Sang dokter, yang sedang mengenakan dotera (kimono tebal berlapis kapas untuk musim dingin), tidak mau membiarkan tamunya pulang. Ia memamerkan dua botol sider apel jatah ransum, bersikeras untuk membuka satu untuk Dazai (sementara ia sendiri "tidak minum"), dan menghidangkan kabayaki ikan lele — panggang oles saus manis bergaya belut yang dibuat istrinya dari ikan lele murahan sebagai pengganti belut langka masa perang.
"Bumbunya rasa khas hasil kreativitas dan akal istri saya. Lele pun kalau diolah begini tidak boleh diremehkan, lho."
Dazai dipaksa minum sider apel dalam ochoko (cangkir sake kecil khas Jepang) sebesar bidal — sebuah pengalaman yang ia gambarkan sebagai "sungguh tidak enak" dan "sama sekali tidak memabukkan". Dalam hati, ia bertanya-tanya belut macam apa yang pernah dimakan dokter ini dulu.
Monolog Sang Dokter — Pidato tentang 'Kreativitas dan Akal' Istri
Inti komedi sketsa ini terletak pada monolog panjang sang dokter (paragraf 21) yang berlangsung tanpa jeda selama hampir seluruh halaman. Dokter itu mulai dengan filsafat:
"Ini ilmu dapur, lho. Memasak pun semacam ilmu, kan. Di tengah kekurangan bahan begini, daya cipta seorang istri akan menentukan nasib negara — sungguh, tanpa main-main, saya yakin akan itu."
Ia lalu menyebutkan sebuah "novel Dazai" yang sebenarnya tidak pernah ditulis oleh Dazai — "tentang seseorang menemukan pesawat terbang model baru lalu naik pesawat itu dan jatuh ke sawah" — sambil memuji Dazai sebagai novelis yang memahami "penemuan baru". Dazai diam-diam mengangguk, walau ia "sama sekali tidak ingat pernah menulis novel semacam itu".
Yang lebih lucu lagi: sang dokter mulai menceritakan kembali (kata demi kata!) perdebatan dua jam antara istrinya dan seorang istri pengungsi dari Tokyo yang ia "kebetulan menguping". Kedua wanita itu berdebat tentang siapa yang lebih jahat — orang desa atau orang kota yang mengungsi. Istri pengungsi mengeluh tentang petani desa yang menjengkelkan; istri dokter membalas dengan "argumen yang lurus" bahwa kalau saja para pengungsi punya "kreativitas dan akal" yang lebih baik, mereka tidak akan kerepotan separah ini.
Frasa "kreativitas dan akal" (創意工夫, sōi kufū) muncul sebanyak tujuh kali di sepanjang sketsa ini — sebuah pengulangan obsesif yang menandai inti humor satir Dazai. Apa pun yang istri sang dokter lakukan — memasak lele, menjamu pengungsi dengan soba bertepung jagung, hidup melalui kekurangan masa perang — semua adalah bukti kreativitas dan akal-nya. Sang dokter sendiri pun, berkat istri yang "patut dipuji" itu, "tidak pernah merasakan kesulitan apa pun dalam sandang, pangan, dan papan" di tengah masa perang.
Kerinduan Diam-diam akan Ogikubo
Di tengah monolog dokter yang tak ada habisnya, Dazai sang narator membuat pengakuan diam-diam:
"Pada saat itu tiba-tiba teringat olehku kedai yakitori pinggir jalan di daerah Ogikubo, Tokyo, dengan kerinduan yang membakar dada sampai hangus — aku tidak butuh apa pun, di kedai pinggir jalan seperti itu, di hadapan yakitori dua sen per tusuk dan satu gelas 'wisuke' sepuluh sen, aku ingin sepuasnya, dengan suara keras, memaki segenap snob dunia. Tetapi itu tidak mungkin. Aku tersenyum, berdiri, dan menyampaikan ucapan terima kasih beserta basa-basi."
Inilah Dazai yang paling khas — sang sastrawan kota yang muak dengan "snob" desa dan rindu pada kebebasan sederhana sebuah kedai yakitori di Ogikubo. "Wisuke" sendiri adalah slang masa perang untuk wiski — sebuah panggilan vulgar yang bahkan lebih menggemaskan dibandingkan istilah aslinya. Dua sen per tusuk yakitori dan sepuluh sen segelas wisuke adalah nilai harfiah kehidupan kota pra-perang yang Dazai inginkan kembali — sederhana, murah, dan jujur.
Ending Satu Kalimat: 'Yannuru kana!'
Dan kemudian — datanglah ending yang termasyhur. Saat Dazai sedang berdiri untuk pulang, ia melihat melalui jendela seorang ibu petani berjalan terhuyung dengan keringat bercucuran, memanggul tiga buah labu besar yang diikat tali jerami kasar di punggungnya. Dengan sinis ia menunjuk ke perempuan itu dan berkata kepada dokter:
"Biasanya, kebanyakan begitu mengerikan keadaannya, lho. Kreativitas dan akal pun tidak ada."
Dokter "membuat wajah aneh dan berkata, 'Ya.'" — dan sebelum Dazai sempat berpikir "ah, masa?", perempuan dengan tiga labu di punggung itu masuk ke pintu dapur belakang rumah sang dokter. Itulah istri ideal — sang ratu kreativitas dan akal yang sudah dipuji habis-habisan selama dua jam terakhir. Lalu datanglah kalimat penutup:
"Yannuru kana. Itulah, dengan kata lain, kepulangan sang istri."
Yannuru kana (やんぬる哉, 已矣哉) adalah seruan klasik dari bahasa Tionghoa kuno — frasa yang biasanya digunakan untuk mengungkapkan keputusasaan terhadap takdir yang tidak bisa diubah. Memakai frasa kanbun yang begitu kuno dan formal untuk menutup sketsa tentang seorang ibu berkeringat dengan tiga labu — itulah inti seni komedi Dazai. Kontras antara register tinggi (frasa klasik) dan kenyataan rendah (labu, keringat, monpe) inilah yang membuat ending sketsa ini termasyhur dalam sastra Jepang.
Konteks Masa Perang: Pengungsian Dazai ke Tsugaru
Yannuru kana ditulis di masa pengungsian Dazai ke kampung halamannya di Tsugaru, Aomori. Dazai dilahirkan di sebuah keluarga jinushi (tuan tanah besar) di kota Kanagi di Tsugaru — sebuah dunia yang ia hindari sebagian besar masa dewasanya. Tetapi pada 1944, ketika pengeboman udara Tokyo (B-29) mulai memuncak, Dazai dipaksa kembali ke kampung halamannya itu — sebuah ironi pahit untuk seorang sastrawan yang seluruh karier sastranya adalah penolakan terhadap aku-jinushi lamanya.
Sketsa-sketsa Dazai dari masa Tsugaru ini — termasuk Tsugaru (1944), kumpulan Otogi-zōshi (お伽草紙, 1945), dan sketsa-sketsa pendek seperti Yannuru kana — adalah salah satu corpus sastra masa perang Jepang yang paling jujur. Berbeda dengan banyak sastrawan yang menulis propaganda atau tunduk pada sensor wartime, Dazai memilih genre yang lebih kecil dan lebih pribadi — sketsa otobiografis, dongeng yang ditulis ulang, dan satir tentang kehidupan sehari-hari masa perang.
Baca Teks Lengkapnya di Pagera
Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan adalah sketsa pendek — hanya sekitar 4.600 kata dalam bahasa Jepang. Tetapi dalam ruang yang singkat itu, Dazai berhasil memuat seluruh ironi pengungsian masa perangnya: kepura-puraan pengangkatan diri kaum intelektual desa, kerinduan terselubung akan kehidupan kota, dan pemecahan akhir di mana satu seruan kanbun klasik menghancurkan dua jam idealisasi feminin sang dokter. Salah satu sketsa Dazai yang paling lucu dan paling tajam — direkomendasikan untuk pembaca yang ingin mengenal sisi humor Dazai yang sering tertutup oleh karya-karya tragisnya yang lebih terkenal.