Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 2 mnt

«Baettaragi» (Lagu Pelayar) Kim Dong-in 1921, Cerpen Pertama Bingkai Cerita Sastra Korea Modern

Pagera Editorial

Cerpen Pertama Korea Modern dalam Bingkai Cerita

Pada Mei 1921, di nomor ke-9 majalah sastra Changjo, Kim Dong-in (1900~1951) menerbitkan «Baettaragi» (배따라기, "Lagu Pelayar"). Cerpen ini dianggap sebagai karya pertama cerpen modern Korea dengan struktur bingkai cerita (frame narrative), di mana narator orang pertama "saya" yang sedang bersantai di Mokranbong, Pyongyang, bertemu dengan seorang pelaut tua, dan pelaut itu menceritakan kisah hidupnya melalui sebuah lagu rakyat berjudul "Baettaragi".

Struktur Frame Narrative dan Kisah dalam Kisah

Karya ini memiliki dua lapis narasi. Lapis pertama: narator "saya" di musim semi Pyongyang yang menyaksikan perahu-perahu hijau menari di Sungai Daedong. Lapis kedua: kisah hidup pelaut yang dia temui di Mokranbong, tentang kecurigaan terhadap istri dan adiknya, kematian sang istri, dan kepergian sang adik selama puluhan tahun.

Frame narrative ini menjadi salah satu warisan teknik Kim Dong-in yang kemudian ditiru oleh para penulis cerpen Korea generasi berikutnya. Choi Seo-hae «Talchulgi» (1925) menggunakan struktur surat balasan, Lee Hyo-seok «Memilkkot Piltte» (1936) menggunakan jalan malam sebagai bingkai, dan Hwang Sun-won «Sonagi» (1953) menggunakan kenangan musim panas.

Tema Penyesalan dan Lagu sebagai Penutup

Inti cerita adalah penyesalan tak berkesudahan seorang pelaut: kecurigaannya yang tak berdasar terhadap istri dan adik kandung sendiri menyebabkan istri bunuh diri dan adik kabur ke laut. Selama lebih dari dua puluh tahun, pelaut itu berlayar dari pantai ke pantai mencari adiknya, dan setiap kali bertemu kapal, dia akan menyanyikan "Baettaragi", lagu pelayar tradisional Joseon, sebagai cara menyampaikan kepada adiknya bahwa dia masih ada dan masih menyesal.

Bait penutup paragraf c1-p195: «Semua daun-daun pohon pinus yang menjulur ke langit di Gizamyo, dan rumput-rumput hijau di bawahnya, semua menyanyikan baettaragi dengan sedih, tetapi dia tidak dapat ditemukan di seluruh kawasan kecil Mokranbong ini. Hanya baettaragi yang dia tinggalkan yang berbisik-bisik di setiap daun seolah-olah mengingatnya.» Lagu menjadi penutup cerita, sebuah teknik yang menjadi pola tetap dalam cerpen Korea kemudian.

Posisi dalam Sejarah Sastra Korea

«Baettaragi» 1921 adalah cerpen Korea modern pertama yang lengkap dalam pengertian estetika modern: struktur frame narrative, narator orang pertama yang berbeda dari protagonis, ironi tersembunyi, dan akhiran terbuka melalui lagu rakyat. Yi Kwang-su «Mujong» (1917) adalah novel pertama, tapi sebagai cerpen «Baettaragi» adalah yang pertama.

Karya ini dipublikasikan di Changjo 9호 (Mei 1921), majalah yang didirikan oleh Kim Dong-in sendiri bersama Joo Yo-han, Jeon Yeong-taek, dan rekan-rekan lainnya di Tokyo pada 1919. Majalah ini menjadi titik awal sastra modern Korea, moto mereka adalah "seni untuk seni" dan "sastra murni", melawan tradisi pendidikan moralistik Yi Kwang-su.

Kim Dong-in dan Era Kolonial

Pembaca perlu mengetahui bahwa Kim Dong-in (1900~1951), meskipun berkontribusi besar dalam membentuk dasar sastra modern Korea, juga memiliki catatan kerjasama dengan kolonial Jepang setelah 1939 (pernyataan «satu tubuh antara dalam dan luar», naejik ilche), termasuk seruan keras kepada pemuda Korea untuk bergabung dengan tentara Jepang pada 1942. Setelah pembebasan 1945, dia masuk masa diam panjang dan meninggal pada 1951. Penerbitan «Baettaragi» 1921 ini terbatas pada nilai sejarah sastra (cerpen modern pertama), bukan pembenaran karir politiknya secara keseluruhan.

Baca «Baettaragi» (배따라기) di Pagera | Mengenal Penulis Kim Dong-in

Kembali ke Pagera