CHAPTER VI. PLANS TO SECURE THE DIAMONDS
BAB VI.
RENCANA MENGAMANKAN BERLIAN
Kami berjalan menyusul di belakang Jim dan Lem sampai tiba di tangga pagar belakang, dekat pondok Jim tua, tempat dia dulu terpikat waktu kami membebaskannya, dan anjing-anjing berlarian mengerumuni kami untuk menyapa, dan lampu-lampu rumah pun sudah kelihatan; jadi kami tidak takut lagi dan hendak memanjat naik, tetapi Tom berkata:
"Tunggu dulu; duduk di sini sebentar. Sumpah!"
"Ada apa?" kataku.
"Masalahnya banyak!" katanya. "Memangnya kau tidak mengira kita akan jadi yang pertama memberi tahu keluarga ini siapa yang terbunuh di rumpun sikamor sana, dan semua soal bajingan-bajingan yang melakukannya, dan soal berlian yang mereka rampas dari mayat itu, lalu menghiasi ceritanya dengan indah, dan menikmati kemuliaan sebagai orang yang tahu jauh lebih banyak daripada siapa pun?"
"Ya, tentu. Bukan kau namanya, Tom Sawyer, kalau kau membiarkan kesempatan seperti itu lewat. Kurasa cerita itu tidak akan kekurangan hiasan," kataku, "kalau kau mulai membumbui fakta-faktanya."
"Nah," katanya, tenang sekali, "apa katamu kalau kubilang aku sama sekali tidak akan memulainya?"
Aku heran mendengar dia bicara begitu. Kataku:
"Kubilang itu bohong. Kau tidak sungguh-sungguh, Tom Sawyer?"
"Sebentar lagi kau akan tahu. Hantu itu bertelanjang kaki?"

Hantu itu bertelanjang kaki?
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Tunggu—akan kutunjukkan kenapa. Dia memakai sepatu bot?"
"Ya. Aku melihatnya jelas."
"Berani sumpah?"
"Ya, aku berani sumpah."
"Aku juga. Nah, tahu apa artinya itu?"
"Tidak. Apa artinya?"
"Artinya pencuri-pencuri itu tidak mendapatkan berlian itu."
"Wah! Kenapa kau pikir begitu?"
"Aku bukan cuma mengira begitu, aku tahu. Bukankah celana dan kacamata dan cambang dan tas tangan dan segala-galanya berubah jadi barang hantu? Semua yang dipakainya berubah, bukan? Itu menunjukkan bahwa sepatu botnya ikut berubah karena masih dipakainya waktu dia mulai gentayangan, dan kalau itu bukan bukti bahwa bajingan-bajingan itu tidak mendapatkan sepatu botnya, aku ingin tahu apa yang kausebut bukti."
Coba pikirkan. Belum pernah aku melihat otak seperti otak anak itu. Aku punya mata dan bisa melihat segala sesuatu, tapi semuanya tidak pernah berarti apa-apa bagiku. Tapi Tom Sawyer lain. Kalau Tom Sawyer melihat sesuatu, benda itu langsung berdiri di atas kaki belakangnya dan berbicara kepadanya—menceritakan semua yang diketahuinya. Belum pernah aku melihat otak seperti itu.
"Tom Sawyer," kataku, "akan kukatakan lagi seperti yang sudah sering kukatakan: aku tidak pantas menyemir sepatu botmu. Tapi tak apa—itu bukan soal. Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan kita semua, dan ada yang diberi-Nya mata yang buta, ada yang diberi-Nya mata yang bisa melihat, dan kurasa bukan urusan kita untuk apa Dia berbuat begitu; pasti sudah benar begitu, kalau tidak, tentu sudah Dia atur dengan cara lain. Teruskan—sekarang aku sudah cukup jelas melihat bahwa pencuri-pencuri itu tidak membawa kabur berlian itu. Kenapa tidak, menurutmu?"
"Karena mereka keburu diusir dua orang lain itu sebelum sempat melepas sepatu bot dari mayat itu."
"Benar juga! Sekarang aku mengerti. Tapi dengar, Tom, kenapa kita tidak jadi pergi menceritakannya?"
"Ah, sudahlah, Huck Finn, masa kau tidak mengerti? Lihat saja. Apa yang akan terjadi? Besok pagi akan ada pemeriksaan kematian. Dua orang itu akan bercerita bagaimana mereka mendengar teriakan dan bergegas ke sana tepat pada waktunya untuk tidak menyelamatkan orang asing itu. Lalu juri akan mengoceh dan mengoceh dan mengoceh, dan akhirnya mereka akan menjatuhkan putusan bahwa dia tertembak atau tertusuk atau dipukul remuk kepalanya dengan sesuatu, dan meninggal karena ilham Tuhan. Dan setelah dia dikubur, barang-barangnya akan dilelang untuk membayar biayanya, dan itulah kesempatan kita." "Bagaimana bisa, Tom?"
"Beli sepatu bot itu seharga dua dolar!"
Wah, napasku nyaris terhenti.
"Ya ampun! Wah, Tom, kita akan mendapat berlian itu!"
"Tentu saja. Suatu hari akan ditawarkan hadiah besar untuk berlian itu—seribu dolar, pasti. Itu uang kita! Sekarang ayo kita masuk menemui keluarga. Dan ingat, kita tidak tahu apa-apa soal pembunuhan apa pun, atau berlian apa pun, atau pencuri mana pun—jangan sampai lupa itu."
Aku terpaksa menghela napas sedikit melihat cara dia mengaturnya. Kalau aku, berlian itu sudah kujual—sungguh—seharga dua belas ribu dolar; tapi aku tidak berkata apa-apa. Percuma saja. Kataku:
"Tapi apa yang mau kita bilang ke Bibi Sally, Tom, soal kenapa kita lama sekali sampai ke sini dari desa?"
"Ah, itu kuserahkan padamu," katanya. "Kurasa kau bisa menjelaskannya entah bagaimana."
Dia memang selalu seteliti dan sehalus itu. Dia sendiri tidak pernah mau berbohong.
Kami menyeberangi halaman besar, memperhatikan ini, itu, dan hal-hal lain yang begitu akrab, dan kami senang sekali melihatnya lagi, dan ketika kami sampai di lorong besar beratap di antara rumah kayu ganda dan bagian dapur, segalanya tergantung di dinding persis seperti dulu, bahkan sampai jubah kerja laken hijau Paman Silas yang sudah pudar dengan tudungnya, dan tambalan putih compang-camping di antara kedua bahu yang selalu tampak seperti habis dilempar bola salju; lalu kami mengangkat palang pintu dan masuk. Bibi Sally sedang kalang kabut ke sana kemari, anak-anak bergerombol di satu pojok, dan orang tua itu meringkuk di pojok lain sambil berdoa memohon pertolongan di saat susah. Bibi Sally melompat menyambut kami dengan sukacita dan air mata berlinang di wajahnya, lalu menghadiahi kami tamparan keras di telinga, kemudian memeluk dan menciumi kami dan menampar lagi, dan rasanya tak pernah puas, dia begitu senang melihat kami; lalu dia berkata:
"Ke mana saja kalian keluyuran, dasar anak tak berguna! Aku begitu mencemaskan kalian sampai tak tahu harus bagaimana. Barang-barang kalian sudah lama sekali di sini, dan aku sudah empat kali memasak makan malam baru supaya panas dan enak waktu kalian datang, sampai akhirnya kesabaranku benar-benar habis, dan sumpah aku—aku—ya ampun, rasanya mau kukuliti kalian hidup-hidup! Kalian pasti kelaparan, kasihan!—duduk, duduk, semuanya; jangan buang waktu lagi."
Senang rasanya kembali duduk di sana menghadapi roti jagung dan iga yang luar biasa itu, dan segala sesuatu yang bisa kauinginkan di dunia ini. Paman Silas tua mengeluarkan salah satu doa berkat gaya lamanya yang paling hebat, berlapis-lapis seperti bawang, dan sementara para malaikat sibuk menarik kendurnya, aku berusaha memikirkan apa yang akan kubilang soal kenapa kami begitu lama. Ketika piring-piring kami sudah penuh dan kami mulai makan, Bibi Sally bertanya kepadaku, dan kataku:
"Begini, soalnya,—anu—Nyonya—"
"Huck Finn! Sejak kapan aku jadi Nyonya buatmu? Pernahkah aku pelit tamparan atau ciuman padamu sejak hari kau berdiri di ruangan ini dan kukira kau Tom Sawyer dan aku memuji Tuhan karena mengirimmu kepadaku, padahal kau mengarang empat ribu kebohongan dan kupercaya satu per satu seperti orang tolol? Panggil aku Bibi Sally—seperti dulu."
Jadi aku menurut. Lalu kataku:
"Begini, aku dan Tom kepingin jalan kaki dan mencium bau hutan sedikit, lalu kami bertemu Lem Beebe dan Jim Lane, dan mereka mengajak kami ikut memetik beri hitam malam ini, dan katanya mereka bisa meminjam anjing Jubiter Dunlap, soalnya dia baru saja bilang begitu kepada mereka—"
"Di mana mereka melihatnya?" tanya orang tua itu; dan ketika aku menengadah untuk melihat kenapa dia sampai tertarik pada hal sepele seperti itu, matanya menyala menembusku, begitu bersemangatnya. Aku begitu kaget sampai agak gelagapan, tapi aku menenangkan diri lagi dan berkata:
"Waktu dia sedang mencangkul tanah bersama Paman, menjelang matahari terbenam atau sekitar itu."
Dia hanya berkata, "Hm," dengan nada agak kecewa, dan tidak tertarik lagi. Jadi aku meneruskan. Kataku:
"Nah, jadi, seperti yang tadi kukatakan—"
"Sudah cukup, kau tidak perlu meneruskan." Itu Bibi Sally. Dia menatapku tajam dan sangat jengkel. "Huck Finn," katanya, "bagaimana orang-orang itu bisa bicara soal pergi memetik beri hitam bulan September—di daerah sini?"
Aku sadar aku keceplosan, dan tidak bisa berkata sepatah pun. Dia menunggu, masih menatapku, lalu berkata:
"Dan bagaimana mereka bisa punya gagasan sebodoh itu, memetik beri hitam malam-malam?"
"Anu, Nyah, mereka—anu—mereka bilang mereka punya lentera, dan—"
"Ah, diam—sudahlah! Dengar ya; mau diapakan anjing itu?—berburu beri hitam pakai anjing?"
"Kurasa, Nyah, mereka—"
"Nah, Tom Sawyer, bohong macam apa yang sedang kaurangkai di mulutmu untuk menambah kacau urusan sampah ini? Bicaralah—dan kuperingatkan sebelum kau mulai, aku tidak percaya sepatah pun. Kau dan Huck pasti berbuat sesuatu yang tidak boleh kalian lakukan—aku tahu betul; aku kenal kalian, dua-duanya. Sekarang jelaskan soal anjing itu, dan beri hitam itu, dan lentera itu, dan omong kosong lainnya—dan ingat, bicaralah selurus tali—dengar?"
Tom tampak cukup tersinggung, dan berkata dengan sangat berwibawa:
"Sayang sekali kalau Huck dimarahi begitu, hanya karena salah sedikit yang bisa dilakukan siapa saja."
"Salah apa dia?"
"Cuma salah menyebut beri hitam, padahal tentu maksudnya stroberi."
"Tom Sawyer, kujamin, kalau kau membuatku lebih jengkel lagi, aku akan—"
"Bibi Sally, tanpa menyadarinya—dan tentu saja tanpa bermaksud begitu—Bibi keliru. Kalau Bibi mempelajari ilmu alam sebagaimana mestinya, Bibi akan tahu bahwa di seluruh dunia, kecuali di sini saja di Arkansaw, orang selalu berburu stroberi dengan anjing—dan lentera—"
Tetapi Bibi Sally memotongnya di situ dan langsung menyerbunya dan menimbunnya dengan omelan. Dia begitu marah sampai kata-katanya tak bisa keluar secepat yang dia mau, dan dia menyemburkannya dalam satu banjir tak berkesudahan. Itulah yang diincar Tom Sawyer. Dia memang mau membuat bibinya naik darah dan mulai mengomel, lalu membiarkannya saja sampai kemarahannya habis terbakar sendiri. Dengan begitu bibinya akan begitu jengkel pada soal itu sampai tidak mau berkata sepatah pun lagi tentang itu, dan tidak membiarkan orang lain membicarakannya juga. Dan memang begitulah yang terjadi. Waktu bibinya kehabisan tenaga dan harus berhenti, Tom berkata, tenang sekali:
"Namun tetap saja, Bibi Sally—"
"Diam!" katanya, "aku tidak mau mendengar sepatah kata lagi darimu."
Jadi kami benar-benar aman, dan tidak ada lagi masalah soal keterlambatan itu. Tom melakukannya dengan sangat apik.