Chapter 1 of 3

Pada suatu hari. Sang Buddha sedang berjalan-jalan sendirian di tepi kolam teratai di Surga. Bunga-bunga teratai yang mekar di kolam itu seputih batu mutiara, dan dari sari emas di tengahnya tercurah aroma harum yang tak terlukiskan, mengalir tanpa henti ke sekeliling. Tampaknya saat itu pagi hari di Surga.

Tak lama kemudian Sang Buddha berhenti di tepi kolam, dan dari sela daun-daun teratai yang menutupi permukaan air, beliau menengok ke bawah. Tepat di bawah kolam teratai di Surga ini terbentang dasar Neraka; melalui air yang sebening kristal, pemandangan Sungai Sanzu (sungai pemisah dunia hidup dan mati dalam ajaran Buddha) dan Gunung Jarum tampak jelas, seakan dilihat melalui kaca pembesar.

Di dasar Neraka itu beliau melihat seorang lelaki bernama Kandata, seorang penjahat besar, yang sedang menggeliat bersama orang-orang berdosa lainnya. Kandata ini sepanjang hidupnya membunuh dan membakar rumah, melakukan berbagai kejahatan; namun ia teringat satu kebajikan kecil yang pernah dilakukannya. Suatu kali, ketika lelaki itu sedang berjalan melewati hutan lebat, ia melihat seekor laba-laba kecil merayap di tepi jalan. Kandata segera mengangkat kakinya hendak menginjaknya hingga mati, tetapi tiba-tiba ia berpikir, "Tidak, tidak. Sekecil apa pun, makhluk ini juga punya nyawa. Mengambil nyawanya tanpa alasan, sungguh terlalu kasihan." Maka ia membatalkan niatnya dan membiarkan laba-laba itu hidup.

Sambil mengamati pemandangan Neraka, Sang Buddha teringat bahwa Kandata pernah menyelamatkan seekor laba-laba. Maka beliau berniat, sebagai balasan atas perbuatan baik itu, jika memungkinkan, menarik lelaki ini keluar dari Neraka. Untungnya, di sebelahnya, di atas daun teratai yang berwarna seperti batu giok, seekor laba-laba Surga sedang merentangkan benang perak yang indah. Sang Buddha mengambil benang laba-laba itu dengan lembut ke tangannya, lalu menjulurkannya lurus ke bawah, melewati sela bunga teratai putih bagai mutiara, menuju dasar Neraka yang jauh di bawah sana.

Chapter 1 of 3