Chapter 1 of 7

Chapter 1

Bab Pertama

Saat aku belum genap sepuluh tahun—peristiwa itu terjadi sekitar empat belas atau lima belas tahun yang lalu dari sekarang.

Tempat itu sekarang disebut Cheongyeopjeong (nama administratif baru di bawah pemerintahan Jepang), tetapi pada masa itu orang menyebutnya Yeonhwabong, Bukit Teratai. Yakni, kalau dari Namdaemun, Gerbang Selatan Gyeongseong, kau menengok lurus ke bawah, ada satu punggungan bukit dengan meriam tengah hari yang terpasang di puncaknya. Sisi sebelah sini punggungan itu adalah Yeonhwabong, dan kampung di lerengnya pun bernama Yeonhwabong.

Sekarang tempat itu sudah menjadi kampung kumuh yang tak bisa disebut apa pun selain permukiman miskin, perkampungan kotor yang dihuni hanya oleh buruh-buruh harian. Tetapi pada masa itu, di sana masih ada orang-orang yang menyebut diri mereka berkedudukan.

Rumahnya tak lebih dari sepuluh sekian buah, dan penghuninya umumnya mengusahakan kebun buah, atau menanam sayur, atau kalau tidak menumbuhkan kongnamul—kecambah kedelai khas Korea—untuk hidup mereka.

Di antara mereka, ada seorang yang memiliki kebun buah paling luas dan hidupnya paling berkecukupan. Namanya sudah kulupakan, tetapi warga kampung memanggilnya O Saengwon—Tuan O, dengan gelar bangsawan rendah zaman Joseon.

Wajahnya tampan dan berseri, suaranya bagai dengung tonggeret musim panas yang melolong panjang dari pohon dedalu, berderak-derak menggema.

Ia seorang lelaki paruh baya yang sangat rajin. Setiap pagi ia bangun dini hari, berjalan ke sana kemari dengan kedua tangan terlipat di belakang, mengurus segala perkara rumah. Bagi warga kampung itu, ia bagai jam: saat ia bangun adalah saat seluruh warga bangun. Kalau di pagi hari ia tak terdengar berkeliling sambil menggerutu, warga akan merasa ganjil dan menengok ke rumahnya—dan pasti saja ia akan ditemukan tengah berbaring sakit. Tetapi hal seperti itu nyaris tak pernah terjadi dalam tiga ratus enam puluh hari setahun; baru terjadi sekali setiap dua atau tiga tahun, kalau pun ada.

Ia belum lama pindah ke tempat itu. Tetapi karena ia selalu mengenakan gamtu—topi penanda status yangban, bangsawan tradisional Korea—warga memanggilnya yangban. Dan ia pun, agar tak kehilangan simpati orang, di bulan Seotdal—bulan kedua belas penanggalan bulan, akhir tahun—membagi-bagi sepasang ikan pollack kering atau seikat rumput laut kepada warga, dan menyediakan peralatan pertanian lebih dari cukup yang boleh dipakai siapa saja kapan pun. Maka di kampung itu rumahnya menjadi rumah yang paling murah hati dan paling dihormati, sekaligus paling berpengaruh.

Di rumah itu ada seorang pelayan bisu bernama Samryong. Tubuhnya pendek tambun—orang menyebutnya bertubuh kerdil—dan lehernya tak menjulur jelas dari pundak, seolah-olah kepalanya ditempelkan langsung ke badan. Wajahnya buruk parah, mulutnya besar sekali. Rambutnya dulu tumbuh seperti sangkar burung kusut, lalu dipangkas atas perintah tuannya, tetapi tetap saja berdiri tegak macam bulu landak, tak peduli berapa kali dipotong. Bila ia berjalan, langkahnya bagai kura-kura yang berusaha tegak: tampak ngos-ngosan dan lamban. Warga kampung tak pernah memanggilnya Samryong; mereka selalu memanggil, "Si Bisu, Si Bisu," atau kalau tidak, "Aengmo, Aengmo." Namun Samryong tak mendengar pun panggilan itu.

Tuan rumah membawanya ikut pindah ketika berpindah ke tempat ini. Samryong tulus, setia, rajin, dan kuat. Ia bisu yang menjalani hidup hanya dengan tangkap firasat, namun kadang lebih cerdas daripada orang-orang yang berbicara dan mendengar. Seumur hidup ia berhati-hati, dan tak pernah sekalipun keliru dalam pekerjaannya.

Begitu bangun pagi, ia menyapu halaman, memberi makan sapi dan babi, di musim panas mencabuti rumput di kebun, mengangkut kayu, membelah kayu bakar, dan di musim dingin menyapu salju, berbelanja ke pasar, dan segala pekerjaan tanpa kecuali—tak ada yang tak bisa dilakukannya.

Karena itu pula tuan rumah menyayangi dan mengasihinya. Kalau ada tanda-tanda Samryong kurang sehat, ia akan dibiarkan beristirahat; apa pun yang tampak ingin ia makan akan diberikan; pakaian diberikan pada waktunya, tidur diatur pada waktunya.

Tetapi di rumah itu ada juga seorang anak laki-laki yang menjadi pewaris tunggal selama tiga generasi turun-temurun. Usianya tujuh belas tahun, namun tampak tak lebih dari empat belas. Karena terlalu dimanja, kepada siapa pun ia tak punya sopan santun, suka bertingkah manja, dan kerap berbuat kejam serta keji terhadap orang maupun binatang.

Warga kampung menyebutnya:

"Anak kurang ajar!" "Anak yang bikin ayahnya susah hati!" "Anak begitu mending tak ada saja."

Begitulah mereka memaki. Maka setiap kali si anak berbuat ulah, sang ibu akan menghadap suaminya dan berkata,

"Pukullah anak itu sekali saja. Kenapa kau biarkan saja kalau melihat yang seperti itu?"

dan kalau sang ibu bergegas hendak memukul sendiri,

"Tak usah. Ia masih belum mengerti, itu sebabnya. Kalau sudah mengerti nanti, tentu tak begitu lagi."

Begitulah si suami menasihatinya dengan lembut. Lalu sang istri akan menjerit-jerit bagai burung kuntul yang berteriak nyaring dan membentak,

"Apa belum mengerti? Sekarang umurnya berapa? Lusa-lusa sudah dua puluh tahun. Tak lama lagi ia akan menikah dan punya anak sendiri—dengan keadaan begini, mau jadi apa?"

Demikian ia membantah, lalu menambahkan,

"Anak ini sepenuhnya ayahnya yang merusak! Kau cuma tahu menyayanginya, tak pernah tahu cara mengajarinya tata krama—"

Bila pertengkaran begini hendak mulai, si suami tak menjawab sepatah kata pun dan keluar saja ke pekarangan.

Si anak terutama sekali tak menganggap si bisu ini sebagai manusia. Karena Samryong tak bisa bicara, anak itu kalau lewat sering meninju lambungnya, kadang menendang pinggulnya.

Tetapi bagi si bisu, perbuatan anak kecil yang tanpa nalar itu malah terasa menggemaskan dan menggelikan. Kalau lengan dan kaki anak yang lemah itu menyentuh tubuhnya yang kekar bagai besi, ia merasa geli sekaligus lucu, lalu berbalik sambil tersenyum simpul, membersihkan pakaiannya, dan menyingkir ke tempat lain.

Pernah suatu kali, si anak menjejalkan tinja ke mulut Samryong yang sedang tertidur siang. Pernah pula ia mengikat erat tangan dan kaki Samryong yang tidur, lalu menyelipkan sumbu api yang menyala di sela-sela jari tangan dan kaki—dan terbahak-bahak menyaksikan si bisu terkejut bangun, meronta-ronta, dan menggelinjang kesakitan bagai orang yang hampir mati.

Setiap hal seperti itu menumpuk kemarahan getir di dada Samryong. Namun ia tidak lebih membenci anak tuannya daripada membenci dirinya sendiri yang cacat; ia tidak lebih mengutuk anak tuannya daripada mengutuk dunia ini.

Tetapi ia tak pernah meneteskan air mata. Ia memang tak punya air mata. Air matanya, saat hendak keluar, seperti mata air yang sudah lama mengering—berusaha menyembul, tetapi tak juga muncul. Bagai seekor anjing yang tak tahu meninggalkan rumah tuannya, ia tahu hanya di sinilah tempatnya, dan hanya orang-orang di sinilah yang dapat ia percayai. Ia tahu nasibnya hanyalah hidup di sini dan mati di sini. Sekalipun anak tuannya memukul, menendang, mencubit, dan menganiayanya dengan segala cara—ia hanya tahu bahwa itu sudah selayaknya ia terima. Sakit yang menimpanya, sudah seharusnya menimpanya; perih yang dideritanya, sudah seharusnya ditanggungnya. Tak sekali pun ia pernah membayangkan bagaimana caranya agar ia bisa lepas dari apa-apa yang selayaknya ia terima itu.

Sekalipun ia tak pernah memikirkan untuk pergi dari rumah itu, atau untuk lepas dari kungkungan hidupnya, ada kalanya—saat anak tuannya menyiksanya atau menyulitkannya—ia memikirkan kepalannya sendiri, atau kekuatannya sendiri.

Saat anak tuannya memukulinya, ia tahu bahwa cukup baginya untuk meredam anak tuannya seorang itu.

Kadang-kadang, ketika nyeri dan perih menjalar ke seluruh tubuhnya, kepalannya gemetar dan hampir saja menghantam tubuh anak tuannya itu. Tetapi ia menahannya, menahannya dengan derita yang menakutkan.

Di dalam hati ia berkata,

"Tidak, ia adalah anak tuanku, ia adalah tuan mudaku."

Begitu ia menelan dan menanggung.

Dan tak lama kemudian ia melupakan segalanya. Lalu kalau anak tuannya pulang menangis sebab berkelahi dengan anak-anak kampung, ia akan menerjang bagai banteng dan bertarung untuk si tuan muda. Karena itu di kampung pun, anak-anak nakal dan pencari onar takut pada si bisu, dan tak berani menyentuh anak tuannya. Si anak tuan pun, kalau dalam keadaan genting, selalu mencari Samryong. Si bisu, kendati dipukuli, tetap saja seperti anjing setia yang merangkak datang—bertarung sekuat tenaga demi anak tuannya tanpa rasa enggan sedikit pun.

Chapter 1 of 7