Chapter 1 of 11

Chapter 1

1

"Mana ada lowongan kosong."

Direktur K menyandarkan tubuhnya yang terbenam empuk di kursi malas itu ke belakang dengan tarikan keras, lalu menjawab tanpa minat seperti orang yang menguap. Sebenarnya, ia tampak menahan keinginan untuk merentangkan kedua lengannya panjang-panjang dan menggeliat sekali saja.

Di hadapan Direktur K, di seberang meja bundar itu, duduklah P dengan sopan, wajahnya menyunggingkan senyum penjilat yang seakan berkata, "Saya amat menghormati dan menjunjung Bapak sebagai senior saya," lalu dengan kefasihan tanpa kefasihan ia memanjangkan kalimat-kalimat permohonan untuk mengemis pekerjaan. Tapi P sudah jadi prajurit tua yang kalah seratus pertempuran dalam berkampanye cari kerja, sehingga penolakan ringan satu kata dari Tuan K pun tidak membuatnya merasa kecewa lagi seperti baru. Karena jawabannya sudah keluar begitu, tidak ada gunanya lagi memohon, tapi ia toh mencoba mengeluarkan satu kalimat lagi sekadar coba-coba.

"Begini, Tuan, kalau memang begitu, mana berani saya memaksa Bapak mengurus saya saat ini juga…… tetapi nanti, kalau-kalau ada lowongan kosong, mohon kiranya pada saat itu……."

P berkata begitu lalu memalingkan wajahnya yang sedari tadi membuang muka, memandang Direktur K dengan hati-hati. Namun Direktur K hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dua tiga kali, lalu menjawab lagi dengan suara bercampur uap menguap.

"Mana ada lowongan terus-terusan…… Lagi pula, sekalipun sesekali ada yang kosong, sudah ada puluhan kandidat berpengaruh yang antre……."

P tidak berkata apa-apa, hanya menundukkan kepala. Sekarang sudah pasti gagal. Tidak ada cara lain selain berdiri sambil mengucap, "Selamat tinggal."

Karena sudah pasti gagal, semestinya ia langsung berkata, "Oh, begitukah," lalu berdiri tegak; namun karena sikap takzim yang ia tampilkan sampai detik ini akan jadi pengkhianatan terlalu memalukan jika tiba-tiba berbalik, ia memilih duduk sebentar lagi dengan pura-pura menunjukkan rasa kecewa.

"Memang masa-masa sulit, ya."

Melihat P tampak putus asa, Direktur K membagikan kekhawatiran dengan murah hati, karena bagi dirinya itu tidak memerlukan modal apa pun.

"Pemuda-pemuda sebagus itu, tapi tidak ada pekerjaan, sampai harus bersusah-susah begitu."

P dalam hati mendengus "Hmh," tapi tidak menjawab sepatah pun. Karena Direktur K sudah lega bahwa P tidak akan memohon lagi, ia meninggalkan sikap acuh tak acuh "mana ada lowongan kosong" yang bercampur uap menguap tadi, lalu mengeluarkan ceramah pidato yang selalu ia simpan di dada dan ia keluarkan setiap kali untuk dihujani-hujankan kepada para pemuda.

"Tapi seperti yang selalu saya katakan…… Jangan begitu, bersusah-payah hanya mau bekerja kantor. Bukan hanya mau hidup dari gaji bulanan di kota, tapi pulanglah ke kampung, ke desa……."

"Pulang ke desa, mau bikin apa?"

P memotong tengah-tengah kalimat itu dan balik bertanya secara mendadak. Karena toh urusan cari kerjanya sudah pasti gagal, ia ingin sedikit berdebat saja untuk meredakan rasa kesal.

"Hah! Itu omongan orang yang tidak tahu apa-apa…… Joseon ini kan negara agraris, petani delapan persepuluh dari seluruh penduduk, jadi masalah Joseon itu sama saja dengan masalah desa. Tahu tidak betapa banyaknya pekerjaan yang menunggu di desa sekarang?"

"Saya tidak begitu paham maksud Bapak. Orang seperti saya rasanya tidak akan punya pekerjaan apa-apa di desa."

"Mana mungkin tidak ada! Misalnya ya…… anu……."

Direktur K mengulang "Ya…… anu……" sambil terbata-bata, dan pada akhirnya tidak juga bisa menjawab. Itu wajar.

Anjuran yang ia berikan kepada para pemuda terpelajar yang datang melamar — pulang ke desa, lakukan kerja sosial pedesaan, atau kemudian (tugas lain yang ia keluarkan adalah "ciptakan pekerjaan sendiri") — sama sekali bukanlah teori yang berakar pada kenyataan. Ia hanya melihat para pencari kerja dari kelas terpelajar membanjir, lalu samar-samar mengatakan "pulang ke desa," "ciptakan pekerjaan" — itu saja. Tidak ada rencana konkret apa pun di baliknya.

Di satu sisi sebagai pose gengsi, di sisi lain sebagai jurus pengusir para pelamar, ia menggunakannya seperti Jalonghui memutar tombak tuanya — tak lebih dari itu.

Hingga kini, kebanyakan yang datang pun mendengarkan khotbah samar itu dengan setengah hati lalu mundur, dan begitulah kebiasaan mereka. Namun untuk P hari ini saja, urusannya tidak begitu — mau tidak mau ia harus memberi penjelasan konkret, dan arah pembicaraan pun berbelok. Maka ia pun menggumam terbata-bata, mengeluarkan apa pun yang melintas di benaknya.

"Misalnya ya…… anu…… ada gerakan pemberantasan buta huruf, kan. Sembilan persepuluh petani tidak tahu eonmun (aksara Hangul)! Lalu gerakan pembaruan hidup juga bagus…… secara penuh pengabdian."

"Penuh pengabdian?"

"Iya…… kalau mau, ya harus penuh pengabdian."

"Makan apa untuk melakukan kerja seperti itu dengan penuh pengabdian……? Kalau punya cukup makanan sampai bisa menjalankan kerja sosial desa, mana saya akan repot-repot cari kerja begini?"

"Hah! Itu pemikiran yang tidak benar…… Punya harta untuk hidup sendiri tapi tidak bekerja untuk masyarakat dan hanya berleha-leha — itu pikiran yang bobrok."

Melihat Direktur K mengeluarkan argumen ngawur, P diam-diam tersenyum tipis dalam hati.

"Tetapi sekarang di desa-desa Joseon, kalau lulusan universitas atau sekolah tinggi berdatangan dengan tangan putih bersih sambil berkata 'pemberantasan buta huruf' atau 'pembaruan hidup', mereka justru tidak akan disambut, malah membuat kepala penduduk pening…… Petani bukan bodoh, bukan budayanya yang tertinggal, juga bukan karena tidak tahu giyeok-nieun (huruf abjad Korea) sehingga hidupnya menderita; bukan pula karena tidak tahu cara memperbarui hidup. Akar masalahnya bukan itu. Lagi pula, apakah para pemuda terpelajar Joseon semua sanggup menjadi humanis seperti itu?"

"Kalau mau, ya bisa, kenapa tidak?"

"Itu karena humanisme sendiri hanyalah satu khayalan, makanya begitu, Tuan."

"Heheh…… Jadi P-gun ini penganut ××-isme?"

"Saya cuma sisa-sisa yang setengah jadi lalu hancur. Kalau saya benar-benar ××-isme garis keras, mana saya datang kepada Bapak begini untuk mencari kerja."

"Tidak baik! Tidak boleh condong ke ideologi yang terlalu keras seperti itu…… Kalau memang tidak mau pulang ke desa, di Seoul pun beberapa orang yang sepaham boleh berkumpul lalu bikin sesuatu — Joseon kekurangan surat kabar, bisa kelola satu surat kabar, atau kalau lebih kecil bikin majalah saja, atau bisnis komersial juga boleh…… Bukankah itu jauh lebih baik daripada berkampanye cari kerja?"

"Memang lebih baik, tapi siapa yang mau menggelontorkan duitnya?"

"Itu kalau dilakukan dengan kesungguhan, duitnya juga akan datang sendiri."

P malas melanjutkan obrolan ngawur ini, lalu memutus percakapannya dan berdiri.

Mengeluarkan unek-unek di hati sampai puas memang melegakan, tapi begitu sadar bahwa kesempatan kerja sudah hilang lagi, dalam mulutnya menggenang rasa pahit.

Di koridor ia berpapasan dengan C, redaktur kepala. P dan C punya hubungan akrab tersendiri.

"Mau ketemu direktur?"

C bertanya.

"Tidak."

P berbohong. Karena bukan saja terasa memalukan menceritakan bahwa ia baru ditolak Direktur K, tapi ia juga sudah sejak lama meminta C untuk berbicara kepada Direktur K tentang lamaran kerjanya, sehingga datang menemui sendiri begini akan menimbulkan kecurigaan — maka ia pura-pura tidak tahu apa-apa.

"Lebih baik kau lupakan saja."

Maksud C adalah agar P melupakan lamaran kerja yang sudah ia titipkan. Berarti C sebelumnya sudah bicara dengan Direktur K, dan urusannya sudah gagal di sana — sementara P tidak tahu apa-apa lalu datang dan melakukan kerja sia-sia. P menyesal tidak menemui C dulu sebelum menemui Direktur K. C melanjutkan kalimat yang sempat terhenti sebentar.

"Kemarin pagi saya bilang ke direktur bahwa keadaan P-gun sangat sulit dan mohon agar dipertimbangkan, sampai banyak kata yang keluar, lalu hidung saya kena sentil. Katanya, surat kabar bukan lembaga penyelamat, kalau orang lain susah memangnya mau bagaimana…… Memang ucapannya itu benar sih."

Kata "surat kabar bukan lembaga penyelamat" itu berdentum di kepala P seperti tusukan ujung jarum yang membuatnya sadar betul.

"Cih! Bangsat-bangsat busuk!"

P menggerutu sendiri seperti itu, lalu keluar tanpa berpamitan kepada C.

Chapter 1 of 11