Chapter 9
9
Bahkan di dunia tahun seribu sembilan ratus tiga puluh empat ini, ada keajaiban.
Yakni: P belum mati kelaparan. Selama satu minggu terakhir, ia tidak mendapat uang dari mana pun. Tak ada apa pun yang bisa digadaikan, dan ia juga tidak pernah cari uang di mana pun.
Begitu pun, ia tidak pernah pergi ke depan pintu orang lain lalu mengemis "Beri saya satu sendok nasi"; dan ia juga tidak mencuri milik orang lain.
Tetapi selama itu ia tidak mati kelaparan. Ia memang kurus, tapi tetap hidup utuh. Andaikata semua hidup macam P diberangus tanpa sisa di dunia ini, mungkin para pekerja bisa hidup sedikit lebih nyaman.
Andai P bukan intelek yang termasuk barisan borjuasi kecil, melainkan buruh, selama itu ia mungkin sudah jadi pengemis atau mengambil tindakan ekstrem. Tapi ia tidak punya keberanian seperti itu. Begitu pun, ia tidak mati dan masih hidup. Tetapi urusan yang lebih menyebalkan daripada mati pun, sedetik pun, tak pernah membebaskannya.
Surat kemarin mengatakan bahwa putranya, Chang-seon, akan dikirim ke atas (ke Seoul), dan hari ini bahkan telegram pun sudah datang: besok pagi akan tiba di Stasiun Keijō (Stasiun Seoul, kala itu disebut Gyeongseong).
Setelah menerima telegram pada waktu tengah hari, P seakan sadar tiba-tiba, lalu berkeliaran panik mengumpulkan uang. Setidaknya dua puluh won…… ia berkeliling, dan menjelang senja akhirnya berhasil mendapat lima belas won.
Dari Jongno ia membeli kompor minyak (pungro), panci, mangkuk seng, sendok, dan barang-barang rumah tangga sederhana lainnya; dalam perjalanan naik, ia mampir mencari kepala bagian penyusun huruf di Percetakan ×× — seorang yang ia kenal sewaktu masih bekerja di majalah dulu.
Ia memohon, "Tidak perlu gaji, asal mau mengajari pekerjaannya saja, terima satu anak kecil untuk kerja di sini."
Kepala bagian penyusun huruf bernama A itu, setelah berkilah ini-itu — ia mengira P merekomendasikan anak kecil dari rumah seorang teman dekatnya —
"Lulus sekolah dasar belum?"
begitu ia bertanya.
"Belum."
P menjawab terus terang.
"Umurnya berapa?"
"Sembilan tahun."
"Sembilan tahun?"
A terkejut dan balik bertanya.
"Sudah, kalau mau belajar bekerja, belajarlah sejak betul-betul kecil."
"Tapi terlalu kecil, kok…… Anak dari rumah siapa?"
"Anak saya sendiri."
P sadar wajahnya sedikit memerah. Mendengar kalimat ini, A seakan menyaksikan hal paling mengejutkan, hanya membuka mulut lalu menatap P lama tanpa berkedip.
"Memangnya kenapa? Memangnya ada hukum yang melarang saya mengirim anak saya sendiri ke pabrik?"
"Bu—bukan, sungguh begitu?"
"Sungguh, kok."
"Lagi bercanda, Tuan……! Anda berkata 'anak sendiri' supaya saya mau terima, kan?"
"Bukan, bukan begitu. Itu memang anak saya sendiri."
"Kalau begitu, kenapa tidak disekolahkan?"
"Belajar di percetakan juga belajar."
"Itu memang benar, tapi kan harus dikirim ke sekolah."
"Saya juga sedang tidak dalam keadaan bisa mengirimnya ke sekolah; lagipula, kalau pun dikirim, ia toh tidak akan jadi manusia berguna……."
"Sungguh tak bisa saya pahami…… Orang seperti saya, sambil mengerjakan pekerjaan ini, masih bersusah-payah menyekolahkan anak; tapi tuan yang justru tahu cara menyekolahkan anak, malah mengirim anak yang belum lulus sekolah dasar pun ke pabrik?"
"Setelah saya sendiri mencoba sekolah, lalu menemukan bahwa itu tidak berguna, makanya saya mau anak saya belajar yang lain."
"Kalau memang sungguh begitu, baiklah, saya akan asuh ia seperti anak saya sendiri dan mengajarinya pekerjaan dengan sungguh-sungguh…… Tapi sungguh, tidakkah ia terlalu kecil dan kasihan?"
"Soal kasihan, saya sebagai ayah merasakannya lebih dari siapa pun; tapi itu obat baginya……."
P memohon dan berterima kasih, lalu keluar dari percetakan. Seperti membongkar satu beban dari pundak, tubuhnya terasa ringan dan hatinya plong.
Dalam perjalanan pulang, ia memesan satu mal beras di toko beras, dan juga membeli beberapa kepala kubis hopaechu (kubis tinggi Korea untuk kimci). Begitu-begitu sudah habis lima won.
Dari sepuluh won sisa, ia menyerahkan enam won kepada induk semang tua; bibir wanita tua itu robek sampai ke daun telinga karena senang. Setelah itu, ia menyerahkan kubis hopaechu yang baru ia beli sambil minta tolong dibuatkan kimci, dan induk semang itu langsung menyetujui dengan riang. Lalu, ketika ia bilang akan memasak sendiri bersama putranya, induk semang itu, tanpa merasa sayang, terus-menerus mengantarkan kkakduki (kimci lobak), kecap kedelai Korea, dan pasta kedelai doenjang.