Chapter 2
Tubuh Utama
Bangunan yang disebut Distrik 33 itu—susunannya tidak bisa tidak mengingatkan orang pada kawasan pelacuran.
Dalam satu nomor pekarangan, delapan belas keluarga berjajar bahu-membahu, pintunya seragam, bentuk tungkunya pun sama. Ditambah lagi, orang-orang yang menghuninya semuanya muda bagai serumpun bunga.
Matahari tidak masuk. Karena mereka berpura-pura tidak tahu kalau matahari masuk. Dengan dalih menjemur kasur belang di tali besi yang dibentangkan tepat di bawah dagu, mereka menutup masuknya matahari ke pintu geser. Di dalam kamar yang remang-remang, mereka tidur siang. Apakah mereka tidak tidur di malam hari? Entahlah. Saya, yang siang malam hanya tidur, tidak punya cara untuk mengetahuinya. Siang hari delapan belas keluarga Distrik 33 sungguh sunyi.
Yang sunyi hanya siang. Begitu agak gelap, mereka mengangkat kasur. Setelah lampu listrik menyala, delapan belas keluarga itu jauh lebih semarak daripada siang hari. Hingga senja, suara pintu geser dibuka-tutup terdengar rapat. Mereka sibuk. Berbagai bau mulai naik. Bau ikan herring panggang, bau pomade Tangoderang, bau air tajin, bau sabun.
Namun yang paling membuat orang mengangguk-angguk bukanlah itu, melainkan papan nama mereka.
Pintu gerbang yang konon mewakili delapan belas keluarga ini—meski mencuat menyendiri sebagai sudut tunggal—ada. Tapi itu adalah gerbang yang tidak pernah ditutup sekali pun, sama saja dengan jalan raya. Segala pedagang bisa keluar masuk lewat gerbang ini kapan saja sepanjang hari. Mereka ini tidak membeli tahu di ambang pintu—mereka membuka pintu geser dan membeli tahu dari dalam kamar. Karenanya, mengumpulkan dan menempelkan delapan belas papan nama keluarga di gerbang Distrik 33 yang seperti ini tidak ada artinya. Entah sejak kapan, mereka punya kebiasaan menempelkan papan nama di samping tulisan «Baekindang» atau «Gilsangdang» yang tertempel di atas setiap pintu geser.
Di samping tulisan di atas pintu geser kamar saya, tertempel kartu nama—seukuran sepotong label cap pisau yang dibagi empat—milik saya. Bukan! Milik istri saya. Itu pun tak lain dari mengikuti kebiasaan tadi.
Namun saya tidak bergaul dengan siapa pun di antara mereka. Bukan hanya tidak bergaul, saya pun tidak menyapa. Selain bertegur sapa dengan istri saya, saya tidak ingin menyapa siapa pun. Sebab saya merasa, kalau saya bertegur sapa atau bergaul dengan orang selain istri saya, itu seperti bukan hal baik dilihat dari wajah istri saya. Sebegitu berharganya istri saya bagi saya. Alasan mengapa saya menghargai istri saya sampai sebegini adalah karena saya tahu, di antara delapan belas keluarga Distrik 33 ini, istri saya—seperti kartu namanya—adalah yang paling kecil dan paling indah. Di antara serumpun bunga yang masing-masing dipinjam delapan belas keluarga itu, istri saya adalah setangkai bunga yang luar biasa indah, yang berkilau cemerlang sampai ke mana saja di kawasan tanpa matahari di bawah atap seng ini. Maka, sosok seperti saya—yang menjaga setangkai bunga itu, atau sebenarnya menggantungkan hidup pada bunga itu—tentu saja menjadi keberadaan canggung yang sulit dilukiskan dengan kata.
Saya menyukai kamar saya—bukan rumah. Rumah tidak ada—sampai ke mana pun. Suhu di dalam kamar nyaman untuk suhu tubuh saya, dan tingkat remangnya pun nyaman untuk daya pandang mata saya. Saya tidak menginginkan kamar yang lebih sejuk atau lebih hangat daripada kamar saya. Saya tidak menginginkan kamar yang lebih terang atau lebih nyaman daripada ini. Kamar saya seolah dengan tekun mempertahankan kadar yang pas hanya untuk saya seorang, sehingga saya selalu bersyukur kepada kamar saya, dan saya pun merasa senang seolah saya terlahir ke dunia ini demi kamar seperti ini.
Tapi ini bukan menghitung apakah saya bahagia atau tidak bahagia. Maksud saya, saya tidak perlu berpikir bahwa saya bahagia, dan juga tidak perlu berpikir bahwa saya tidak bahagia. Hari itu cukup dilewatkan dengan bermalas-malasan tanpa alasan, dan semuanya pun selesai.
Berguling-guling di dalam kamar yang pas dengan tubuh dan jiwa saya bagai pakaian, terkulai lemas—itulah keadaan paling nyaman dan paling damai, atau katakanlah keadaan absolut yang sudah lepas dari hitung-hitungan duniawi semacam bahagia atau tidak bahagia. Saya menyukai keadaan seperti ini.
Kamar absolut saya ini, dihitung dari gerbang, adalah ruang ketujuh tepat. Maknanya tidak lepas dari «Lucky Seven». Saya mencintai angka tujuh ini bagai medali. Tapi siapa yang menduga bahwa kamar seperti ini dibagi dua ruang oleh pintu kertas geser di tengahnya, dan justru itulah yang menjadi simbol nasib saya? Kamar bawah masih kebagian matahari. Di pagi hari, sepetak matahari seukuran kain bungkus buku masuk, lalu mengecil seukuran sapu tangan di siang hari dan pergi. Tak perlu dikatakan, kamar atas yang sama sekali tidak kebagian matahari adalah kamar saya. Saya tidak ingat siapa di antara saya dan istri yang memutuskan bahwa kamar berkena matahari ini adalah kamar istri, dan kamar tanpa matahari adalah kamar saya.
Namun saya tidak merasa keberatan.
Begitu istri pergi keluar, saya bergegas pindah ke kamar bawah, membuka jendela atap yang menghadap timur. Begitu dibuka, sinar matahari yang masuk menerangi meja rias istri, dan berbagai botol berlumur warna berkilauan cemerlang—melihat kilau itu adalah hiburan tiada tara bagi saya. Saya mengeluarkan kaca pembesar kecil, mengeluarkan jiri-gami—kertas tisu yang hanya dipakai istri—dan bermain api sambil menghanguskannya. Sinar paralel dibelokkan, dikumpulkan ke satu titik fokus, titik fokus itu makin lama makin panas, akhirnya kertas mulai hangus, mengepulkan asap tipis, sampai akhirnya tembus berlubang—rasa gelisah dalam waktu yang tak seberapa itu sungguh menyenangkan bagi saya, sampai-sampai saya ingin mati saja.
Begitu permainan ini menjemukan, saya juga bermain bermacam-macam dengan cermin gagang milik istri. Cermin itu hanyalah barang berguna saat memantulkan wajah sendiri. Di luar itu, cermin sepenuhnya adalah mainan. Permainan ini pun segera membosankan.
Naluri bermain saya melompat dari yang fisik ke yang spiritual. Saya membuang cermin, mendekat ke meja rias istri, dan menatap deretan berbagai botol kosmetik yang berjajar. Mereka itu lebih memikat daripada apa pun di dunia. Saya memilih satu di antaranya, perlahan menarik tutupnya, membawa mulut botol ke hidung saya, dan menarik napas pelan-pelan bagai menahan napas. Begitu wangi sensual ala asing meresap ke paru-paru, mata saya terpejam pelan dengan sendirinya. Pastilah itu serpihan aroma tubuh istri saya.
Saya menutup kembali botolnya dan berpikir. Dari bagian mana tubuh istri aroma ini berasal…… Tapi itu tidak jelas. Mengapa? Sebab aroma tubuh istri saya adalah jumlah keseluruhan dari berbagai wangi yang berjajar di sini.
Kamar istri selalu mewah. Berbeda dengan kamar saya yang sederhana, di dindingnya tidak tertancap satu paku pun, di kamar istri sederet paku tertancap di bawah langit-langit, dan di setiap paku tergantung rok dan baju jeogori istri yang mewah. Berbagai motifnya enak dipandang. Dari berbagai potong rok itu, saya selalu membayangkan tubuh istri, dan berbagai pose yang bisa diambil tubuh itu—dan sambil membayangkan terus-menerus, hati saya pun selalu tidak senonoh.
Padahal saya tidak punya pakaian. Istri tidak memberi saya pakaian. Satu setelan setelan korduroy yang saya pakai ini adalah pakaian tidur saya, sekaligus pakaian sehari-hari dan pakaian pergi. Lalu sebuah sweater leher tinggi adalah pakaian dalam saya sepanjang empat musim. Semuanya berwarna gelap. Dugaan saya, itu agar tetap enak dipandang meski dicuci sejarang mungkin. Saya memakai sarumata—celana dalam lembut yang dipasangi karet di tiga tempat, pinggang dan kedua selangkangan—dan tanpa suara apa-apa, saya bermain sendirian dengan baik.
Tahu-tahu petak matahari seukuran sapu tangan telah pergi, tetapi istri belum kembali dari kepergiannya. Bahkan untuk hal sekecil ini saya merasa agak lelah, dan karena teringat harus sudah kembali ke kamar saya sebelum istri pulang, saya pun pindah ke kamar saya. Kamar saya remang-remang. Saya bertudung selimut dan tidur siang. Kasur saya, yang tidak pernah sekali pun digulung, terasa hangat seperti bagian dari tubuh saya sendiri. Kadang saya bisa tidur nyenyak. Tapi kadang juga seluruh tubuh terasa kasar gatal dan saya sama sekali tidak bisa tidur. Pada saat begitu, saya memilih satu topik—apa saja—dan menelitinya. Di dalam selimut yang sedikit lembap ini, saya memang membuat banyak penemuan, menulis banyak makalah. Menggubah banyak puisi pula. Tapi semua itu, begitu saya tertidur, larut bagai sabun ke dalam udara lembap kental yang meluap-luap memenuhi kamar saya, lenyap entah ke mana, dan saya yang bangun setelah tidur sejenak hanyalah seperangkat saraf bagai bantal yang penuh dengan kain kapas atau kulit soba—begitu, begitu saja.
Karena itu, kepinding adalah hal yang paling saya benci. Tapi di kamar saya, bahkan di musim dingin pun, beberapa kepinding tak henti-henti muncul. Kalau ada satu hal yang menjadi kekhawatiran saya, itu hanyalah kekhawatiran membenci kepinding ini. Saya menggaruk tempat yang gatal karena digigit kepinding sampai berdarah. Perih. Itu pasti suatu kenikmatan diam-diam. Saya pun terlelap dengan pulas.
Namun bahkan dalam kehidupan permenungan di dalam selimut seperti itu pun, saya tidak pernah memikirkan hal yang aktif. Memang tak ada perlunya bagi saya. Andai saya mendapati sesuatu yang agak aktif, saya pasti harus membicarakannya dengan istri, dan kemudian saya pasti akan dimarahi istri—saya bukannya takut dimarahi, melainkan repot. Daripada bekerja layaknya seorang anggota masyarakat dan mendengar omelan istri, saya lebih suka malas seperti binatang yang paling malas. Kalau bisa, saya bahkan ingin melepaskan kulit manusia yang tidak bermakna ini.
Bagi saya, masyarakat manusia terasa canggung. Hidup terasa canggung. Segalanya hanya terasa kikuk.
Istri mencuci muka dua kali sehari.
Saya bahkan tidak sekali pun mencuci muka sehari.
Saya pergi ke kakus pada pukul tiga atau empat tengah malam.
Pada malam yang bulannya terang, saya kadang berdiri lama mematung di halaman lalu masuk kembali. Karena itu, saya hampir tidak pernah berpapasan muka dengan siapa pun dari delapan belas keluarga ini. Padahal begitu, saya hampir mengingat semua wajah perempuan muda dari delapan belas keluarga ini. Mereka semua tak setara dengan istri saya.
Cuci muka pertama istri yang dilakukan sekitar pukul sebelas itu agak sederhana. Tapi cuci muka kedua sekitar pukul tujuh malam sangat memakan waktu. Istri mengenakan pakaian yang lebih bagus dan lebih bersih di malam hari ketimbang siang hari. Dan dia pergi keluar siang hari maupun malam hari.
Apakah istri punya pekerjaan? Saya tidak tahu apa pekerjaan istri. Kalau istri tidak punya pekerjaan, mestinya dia tidak perlu pergi keluar—seperti saya yang juga tidak punya pekerjaan—tapi istri pergi keluar. Bukan hanya pergi keluar, banyak tamu yang datang. Pada hari banyak tamu yang datang menemui istri, saya harus seharian berbaring berselimut di kamar saya.
Saya tidak bisa bermain api. Tidak bisa mencium bau kosmetik. Pada hari seperti itu, saya sengaja bersikap muram. Maka istri memberi saya uang. Uang perak 50 jeon. Saya menyukainya.
Tapi karena saya tidak tahu harus memakainya untuk apa, saya selalu melemparnya begitu saja di sisi bantal. Lama-lama terkumpul cukup banyak. Suatu hari, istri yang melihat ini membelikan saya celengan bisu yang berbentuk seperti brankas.
Saya memasukkan uangnya sekeping demi sekeping, dan kuncinya istri yang ambil. Saya juga ingat, setelah itu pun saya kadang memasukkan uang perak ke celengan bisu itu. Lalu saya bermalas-malasan. Tak lama kemudian, satu jepit hidung emas seperti jerawat yang belum pernah saya lihat tumbuh di sanggul istri—bukankah itu bukti bahwa berat celengan brankas itu telah menjadi ringan? Tapi pada akhirnya saya tidak menyentuh celengan bisu yang tergeletak di sisi bantal itu. Kemalasan saya bahkan enggan diingatkan oleh hal seperti itu.
Pada hari ketika istri kedatangan tamu, betapapun dalamnya saya menyusup ke dalam selimut, tidur tidak datang sebagaimana di hari hujan. Pada saat seperti itu, saya meneliti mengapa saya selalu punya uang, dan mengapa uang banyak. Tampaknya para tamu tidak tahu saya ada di balik pintu kertas geser. Mereka berkelakar—lelucon yang bahkan saya dan istri saya pun sulit mengucapkannya—dengan sangat enteng tanpa ragu. Namun tiga atau empat tamu yang mendatangi istri saya bisa dibilang cukup sopan—begitu lewat tengah malam, mereka biasa pulang.
Di antara mereka tampaknya ada juga yang sangat dangkal pendidikannya, dan orang seperti itu biasanya membeli makanan dan menyantapnya sambil bermain.
Dengan begitu mereka melengkapi diri, dan secara keseluruhan tidak terjadi apa-apa. Mula-mula saya berusaha meneliti apa pekerjaan istri, tetapi dengan pandangan yang sempit dan pengetahuan yang minim, sulit menemukan jawabannya. Tampaknya saya akan terus tidak tahu apa pekerjaan istri saya sampai akhir.
Istri selalu memakai kaus kaki katun baru. Istri juga memasak nasi. Saya tidak pernah sekali pun melihat istri memasak nasi, tetapi setiap waktu makan dia membawa nasi pagi dan sore saya ke kamar saya. Di rumah kami tidak ada orang lain selain saya dan istri saya. Jadi nasi ini pasti dimasak istri sendiri.
Namun istri tidak pernah sekali pun memanggil saya ke kamarnya. Saya selalu makan dan tidur sendirian di kamar atas.
Nasinya terlalu tidak enak. Lauknya terlalu seadanya. Saya seperti ayam atau anak anjing menerima makanan yang diberi tanpa berkata-kata, melahapnya, tetapi di dalam hati kadang saya merasa tidak adil.
Wajah saya makin lama makin pucat tanpa terkendali, tubuh mengering. Hari demi hari tenaga saya terkuras secara kasatmata. Karena kekurangan gizi, tulang-tulang di berbagai tempat di tubuh saya menonjol tajam. Dalam satu malam pun, kalau saya tidak membalikkan badan puluhan kali, sana-sini akan terasa kebas dan saya tidak tahan.
Karena itulah, di dalam selimut saya, di satu sisi saya menyelidiki sumber uang yang sering bisa dipakai istri, di sisi lain saya meneliti secara sederhana suara apakah yang merembes dari kamar bawah lewat celah pintu kertas geser itu.
Saya tidak bisa tidur nyenyak.
Saya sadar. Saya sadar bahwa uang yang dipakai istri itu pasti ditinggalkan oleh para tamu—yang bagi saya tidak terlihat lebih daripada orang-orang kurang serius—yang datangnya pun tidak jelas alasannya.
Tapi mengapa para tamu itu meninggalkan uang? Mengapa istri saya harus menerima uang itu? Konsep etiket seperti ini sama sekali tidak bisa saya pahami.
Apakah itu sekadar etiket? Atau jangan-jangan ada nilai tukarnya? Imbalan? Apakah di mata mereka istri saya tampak sebagai sosok malang yang harus dikasihani? Begitu saya memikirkan hal-hal ini, kepala saya pun selalu berakhir berantakan, berantakan saja. Padahal kesimpulan yang saya dapat sebelum tertidur hanyalah perasaan tak senang, tapi saya tidak pernah sekali pun menanyakan hal seperti itu kepada istri. Sebab pertama-tama itu merepotkan, juga karena saya yang bangun dari tidur sejenak seolah orang yang berbeda sama sekali, melupakan ini-itu dengan bersih lalu menghentikannya.
Setelah para tamu pulang, atau setelah dia pulang dari kepergiannya, istri berganti pakaian yang nyaman lalu datang ke kamar saya. Lalu dia menyibakkan selimut dan mencoba menghibur saya dengan beberapa kata yang di telinga saya terdengar sangat hidup. Saya menatap wajah cantik istri sambil tersenyum—senyum yang bukan ejekan, bukan tawa pahit, bukan pula tawa keras. Istri tersenyum cerah. Tapi saya tidak melewatkan secercah kepedihan yang melayang di wajahnya itu.
Istri pastilah cukup mampu menangkap bahwa saya sedang lapar. Tapi dia tidak hendak memberikan kepada saya sisa makanan dari kamar bawah. Itu pastilah, sampai ke mana pun, perasaan hormatnya kepada saya. Meski lapar, saya senang merasa hati saya cukup teguh. Tidak mungkin tersisa di telinga apa pun yang istri ucapkan sebelum pergi. Hanya, di sisi bantal saya, uang perak yang ditinggalkan istri berkilau samar di bawah lampu listrik.
Sudah berapa banyakkah uang perak yang terkumpul di dalam celengan brankas itu? Tapi saya tidak mengangkatnya. Hanya, tanpa kemauan atau harapan apa pun, saya menjatuhkan uang perak melalui celah seperti lubang kancing baju itu.
Sama seperti pertanyaan tak terjawab tentang mengapa para tamu meninggalkan uang untuk istri, pertanyaan tentang mengapa istri meninggalkan uang untuk saya pun adalah pertanyaan yang sama-sama tak terjawab bagi saya.
Meskipun saya tidak benci istri meninggalkan uang untuk saya, itu hanyalah karena saya menyukai sensasi singkat tak berarti dari saat jari saya menyentuh uang itu sampai uang itu lenyap dari mulut celengan bisu—di luar itu, tidak ada kegembiraan apa-apa.
Suatu hari saya membuang celengan bisu itu ke kakus. Saat itu, entah berapa banyak isinya, di dalamnya cukup banyak uang perak.
Saya merasa benar-benar hampa, begitu memikirkan bahwa saya hidup di atas bola bumi, dan bola bumi tempat saya hidup seperti ini berlari di ruang tak terhingga dengan kecepatan angin badai dan halilintar. Di atas bola bumi yang sebegitu rajin, saya merasa bisa pusing, dan ingin secepat mungkin turun.
Setelah memikirkan hal seperti ini di dalam selimut, bahkan memasukkan uang perak ke celengan bisu pun terasa merepotkan. Saya berharap istri akan memakai sendiri celengan bisu itu.
Karena sebenarnya celengan bisu maupun uang itu hanya berguna bagi istri saja—bagi saya sejak awal tidak punya makna sama sekali—saya menunggu, kalau bisa, istri akan membawa celengan bisu itu ke kamarnya sendiri.
Tapi istri tidak membawanya. Saya berpikir untuk membawanya sendiri ke kamar istri, tapi pada masa itu tamu istri begitu banyak sehingga sama sekali tidak ada kesempatan saya bisa pergi ke kamar istri. Karena itu, mau tak mau, saya membuangnya ke kakus.
Dengan hati pilu, saya menunggu omelan istri. Tapi istri sampai akhir tidak berkata apa-apa.
Bukan hanya tidak berkata, uang tetap saja diletakkan di sisi bantal saya seperti biasa! Tahu-tahu, di sisi bantal saya, uang perak terkumpul cukup banyak.
Saya mulai meneliti lagi di dalam selimut: bukankah tamu meninggalkan uang kepada istri, dan istri meninggalkan uang kepada saya, itu sejenis kenikmatan—tak ada alasan lain selain itu?
Saya melanjutkan penelitian: kalau kenikmatan, jenis kenikmatan apa? Tapi dengan penelitian di dalam selimut, tak ada jalan untuk mengetahuinya. Kenikmatan, kenikmatan—di luar dugaan saya merasa tertarik hanya pada masalah ini.
Tentu saja istri selama ini telah mengurung saya layaknya tahanan. Saya tidak punya alasan untuk mengeluh. Di tengah keadaan seperti itu pun, saya ingin mengalami ada-tidaknya kenikmatan itu.
Memanfaatkan celah ketika istri pergi keluar malam, saya keluar. Di jalanan, saya menukar uang perak yang tidak lupa saya bawa dengan uang kertas. Jumlahnya 5 won. Saya memasukkannya ke saku dan untuk melupakan tujuan, saya berkeliaran di jalanan sepuasnya. Jalanan yang sudah lama tidak saya lihat begitu mendebarkan saraf saya hampir mendekati keajaiban. Saya seketika lelah.
Tapi saya bertahan. Lalu, hingga malam larut, saya berkeliaran dari jalan ke jalan tanpa arah, kehilangan alasan. Tentu saja saya tidak menggunakan sesen pun uang itu. Niat untuk membelanjakan uang itu pun sama sekali tidak muncul. Saya seperti sudah kehilangan sepenuhnya kemampuan untuk membelanjakan uang.
Saya sungguh-sungguh sudah tidak tahan lagi menahan kelelahan. Dengan susah payah saya menemukan rumah saya. Tahu bahwa untuk pergi ke kamar saya harus melewati kamar istri, dan sambil cemas memikirkan ada-tidaknya tamu di kamar istri, saya batuk sekali agak canggung di depan pintu kertas geser. Tiba-tiba pintu kertas geser terbuka dengan kasar luar biasa, dan wajah istri serta wajah laki-laki asing di belakangnya menengok ke arah saya. Cahaya yang tiba-tiba mengalir keluar membuat mata saya silau, dan saya agak gugup.
Bukan saya tidak melihat tatapan mata istri. Tapi saya tidak punya pilihan selain berpura-pura tidak tahu.
Mengapa? Sebab saya bagaimanapun harus melewati kamar istri…….
Saya berselimut. Yang paling tak tertahankan adalah kaki saya sakit.
Di dalam selimut, dada saya berdegup-degup dan saya merasa seperti mau pingsan. Saat berjalan saya tidak menyadari, tapi napas saya tersengal. Keringat dingin merembes deras di punggung. Saya menyesal sudah pergi keluar. Saya berharap bisa segera tidur dan melupakan kelelahan seperti ini. Saya ingin tidur nyenyak satu kali.
Setelah cukup lama bertelungkup miring, sedikit demi sedikit degupan dada yang berdetak-detak itu mereda. Saya merasa setidaknya bisa hidup. Saya membalikkan tubuh, berbaring telentang menghadap langit-langit, dan merentangkan kaki lurus.
Tapi saya kembali tidak bisa lepas dari degupan dada. Dari kamar bawah, suara istri dan laki-laki itu yang berbisik begitu pelan sampai-sampai bahkan ke telinga saya pun nyaris tidak terdengar—merembes lewat celah pintu kertas geser. Untuk mempertajam pendengaran, saya membuka mata. Lalu menahan napas.
Tapi saat itu istri dan laki-laki itu sudah berdiri sambil menepuk-nepuk tempat duduk, dan sambil berdiri terdengar suara mengenakan pakaian dan topi. Disusul pintu kertas geser yang terbuka, suara tumit sepatu, lalu suara kaki yang turun ke halaman terdengar gedebuk, dan suara sepatu karet istri yang mengikuti di belakangnya berderit-derit dua tiga langkah, ringan-ringan, dan dalam waktu sekejap suara langkah kedua orang itu lenyap ke arah gerbang.
Saya belum pernah melihat sikap istri seperti ini. Istri tidak pernah berbisik-bisik dengan siapa pun. Bahkan saat saya berbaring berselimut di kamar atas, mungkin saya melewatkan percakapan para tamu yang mabuk sehingga lidahnya tidak putar dengan baik, tetapi suara istri yang tidak tinggi tidak rendah itu tidak pernah sekali pun saya lewatkan, sekata pun.
Bahkan kalau ada suara yang mengganggu telinga, saya cukup tenang karena suara itu sampai ke telinga saya dengan nada yang tenang.
Sikap istri yang seperti itu—dan kini berubah seperti ini—pasti menyimpan keadaan yang tidak sembarangan di dalamnya. Hati saya agak pilu, tetapi lebih dari itu, saya terlalu lelah, sehingga hari itu saja saya bertekad keras tidak akan meneliti apa pun di dalam selimut, dan menunggu datangnya tidur. Tidur siang sulit sekali datang. Istri yang keluar ke gerbang pun tak juga masuk. Sementara itu, entah bagaimana saya tertidur. Mimpi melantur berkeliaran di pemandangan jalanan yang tak bisa kupahami batas-batasnya.
Saya diguncang keras. Istri yang masuk setelah mengantar tamu menggoncang saya yang sedang tidur. Saya terbelalak membuka mata dan menatap wajah istri. Tidak ada senyum di wajah istri. Saya menggosok-gosok mata sebentar dan menatap wajah istri dengan saksama. Murka mengambang di sudut matanya, bibirnya yang tipis bergetar. Tampaknya sulit murka ini akan reda dengan mudah. Saya memejamkan mata begitu saja. Saya menunggu petir menyambar. Tapi terdengar napas berdesir, dan dengan gemerisik suara rok istri, pintu kertas geser dibuka-tutup, dan istri kembali ke kamarnya.
Saya membalikkan tubuh lagi, bertudung selimut, dan bertelungkup bagai katak. Sambil bertelungkup, di tengah lapar, saya kembali menyesali kepergian malam ini.
Di dalam selimut, saya meminta maaf kepada istri. Itu kesalahpahamanmu…… Saya sebenarnya mengira malam sudah cukup larut. Bahwa itu—seperti katamu—belum lewat tengah malam, sungguh saya tidak sangka sedikit pun, bahkan dalam mimpi. Saya terlalu lelah. Berjalan terlalu jauh setelah lama tidak keluar, itu kesalahan saya.
Kalau itu kesalahan saya, hanya itu kesalahannya. Mengapa keluar? Saya ingin sekadar memberikan kepada siapa pun uang 5 won yang terkumpul sendiri di sisi bantal itu. Itu saja. Tapi kalau itu pun kesalahan saya, saya akan menerimanya. Bukankah saya menyesal? Andai saya bisa menghabiskan uang 5 won itu, saya tidak akan bisa pulang sebelum tengah malam. Tapi jalanan terlalu rumit, orang-orang terlalu berkerumun. Saya tidak bisa memutuskan kepada orang mana saya harus menyerahkan uang 5 won itu. Sementara itu, saya menjadi lelah luar biasa.
Yang paling saya inginkan adalah istirahat. Ingin berbaring. Karena itu mau tidak mau saya pulang. Saya kira malam sudah cukup larut, tetapi sayangnya ternyata belum lewat tengah malam—ini sungguh sayang sekali. Memalukan. Saya mau meminta maaf berapa kali pun. Tapi kalau pada akhirnya saya gagal melepaskan kesalahpahaman istri, lalu di mana letak makna saya meminta maaf sebegini? Mengenaskan.
Selama satu jam saya harus bersikap gelisah seperti ini. Saya menyibakkan selimut dengan keras, bangkit, membuka pintu kertas geser, dan berlari sempoyongan ke kamar istri. Hampir-hampir saya tidak punya kesadaran.
Saya hanya samar-samar ingat bahwa saya tersungkur di atas selimut istri, dan dari saku celana saya keluarkan uang 5 won itu dan menggenggamkannya ke tangan istri.
Esok harinya saat saya terbangun, saya berada di kamar istri, di dalam selimut istri. Inilah pertama kalinya sejak saya mulai tinggal di Distrik 33 saya tidur di kamar istri.
Matahari sudah cukup tinggi di jendela atap, tetapi istri sudah pergi keluar dan tidak berada di sebelah saya. Bukan! Mungkin istri pergi keluar saat saya kehilangan kesadaran kemarin malam. Tapi saya tidak ingin memeriksa hal seperti itu. Hanya, sekujur tubuh saya terasa berat sampai-sampai bahkan menggerakkan satu jari pun tak ada tenaga. Petak matahari yang luasnya sedikit lebih kecil daripada kain bungkus buku, menyilaukan. Di dalamnya, debu yang tak terhitung menari-nari liar bagai mikroorganisme. Hidung saya seperti tersumbat. Saya memejamkan mata lagi, menutupi tubuh rapat-rapat dengan selimut, dan mulai tidur siang. Tetapi aroma tubuh istri yang menyentuh hidung saya cukup memprovokasi. Saya berputar-putar berkali-kali sambil menelusuri aroma yang tercium ketika tutup berbagai botol kosmetik di meja rias istri dibuka—tidur sulit datang dan saya tak bisa berbuat apa-apa.
Tak tahan lagi, saya menyibakkan selimut, bangkit, dan pergi ke kamar saya. Di kamar saya, jatah makan saya yang sudah dingin tertata rapi. Di kamar saya, jatah makan saya yang sudah dingin tertata rapi. Istri meletakkan jatah makan saya di sini sebelum pergi. Pertama-tama saya lapar. Begitu satu sendok masuk ke mulut, sentuhannya dingin bagai abu mati. Saya meletakkan sendok dan masuk ke dalam selimut saya. Kasur saya yang kosong semalaman tetap menyambut saya dengan hangat. Saya menutupi tubuh dengan selimut dan kali ini tidur panjang dengan nyenyak. Nyenyak—
Saya bangun setelah lampu listrik menyala. Tapi tampaknya istri belum pulang.
Bukan! Mungkin dia sudah pulang dan keluar lagi. Tapi untuk apa memikirkan hal seperti itu? Pikiran saya jauh lebih jernih. Saya memikirkan peristiwa semalam. Kenikmatan yang saya rasakan saat menggenggamkan uang 5 won itu ke tangan istri sebelum tumbang—saya tidak bisa menjelaskannya dengan apa pun. Tetapi tampaknya saya telah mengetahui rahasia psikologi para tamu yang meninggalkan uang untuk istri saya, dan psikologi istri saya yang meninggalkan uang untuk saya—saya senang luar biasa.
Saya tersenyum simpul di dalam hati.
Tidak bisa kubayangkan betapa konyolnya saya sendiri yang telah hidup sampai hari ini tanpa mengetahui hal seperti ini.
Karenanya, saya juga ingin pergi keluar malam ini. Tapi tidak ada uang. Saya pun menyesal telah memberikan seluruh uang 5 won itu kepada istri sekaligus tadi malam. Saya juga menyesal telah membuang celengan bisu ke kakus. Saya kecewa tanpa sebab dan—karena kebiasaan—memasukkan tangan ke saku celana yang dulu berisi uang 5 won itu, mengaduk-aduk sekali. Di luar dugaan ada sesuatu yang menempel di tangan saya. Hanya 2 won. Tapi banyak bukan berarti enak. Asal ada sedikit, sudah cukup. Saya begitu berterima kasih.
Saya mendapat semangat. Saya mengenakan satu-satunya setelan korduroy yang sudah robek, melupakan rasa lapar dan penampilan yang buruk, dan melangkah lebar-lebar keluar ke jalanan lagi. Sambil keluar, saya berdebar berharap waktu melaju bagai anak panah dan tengah malam segera saja lewat. Memberikan uang kepada istri dan tidur di kamar istri itu sampai ke mana pun adalah hal baik, tapi kalau salah-salah saya pulang sebelum tengah malam dan kena tatapan tajam istri, itu sungguh hal yang menakutkan.
Sampai senja, saya menatap-natap jam di pinggir jalan berulang-ulang, dan kembali berkeliaran di jalanan tanpa arah. Tetapi hari itu saya tidak terlalu lelah. Hanya, waktu terasa terlalu lambat dan itu yang menggelisahkan saya.
Setelah memastikan jam Stasiun Gyeongseong sudah lewat tengah malam, saya pulang. Hari itu, di gerbang sudut tunggal saya berpapasan dengan istri dan laki-laki istri yang sedang berdiri mengobrol. Saya berpura-pura tidak tahu, lewat di samping kedua orang itu, dan masuk ke kamar saya. Istri pun menyusul masuk. Setelah masuk, di tengah malam seperti ini dia menyapu—hal yang seumur hidup tidak pernah dilakukannya. Begitu saya mengintai gerakan istri yang berbaring, saya kembali membuka pintu kertas geser, pergi ke kamar istri, dan dengan sigap menggenggamkan uang 2 won itu ke tangan istri, lalu—bagaimanapun, istri menatap wajah saya berkali-kali seolah penasaran sekali kenapa malam ini pun saya tidak menggunakannya dan membawanya kembali—pada akhirnya istri tanpa berkata apa-apa menidurkan saya di kamarnya. Kegembiraan ini, saya tidak ingin menukarnya dengan apa pun di dunia. Saya tidur nyenyak dengan damai.
Esok harinya pun, saat saya terbangun istri tidak terlihat. Saya pergi lagi ke kamar saya, dan tubuh yang lelah ini tidur siang. Saat saya bangun karena diguncang istri, tetap saja itu setelah lampu menyala. Istri menyuruh saya ke kamarnya. Hal seperti ini juga baru pertama kali. Istri menarik lengan saya, senyumnya tak putus dari wajah. Saya tidak bisa tidak merasa cemas, jangan-jangan di balik sikap istri seperti ini tersembunyi muslihat yang tidak sembarangan.
Saya diseret ke kamar istri sesuai kemauan istri. Di kamar istri telah tersaji hidangan malam yang sederhana. Coba kupikir, saya sudah dua hari berpuasa. Saat ini saya bahkan setengah lupa setengah ingat bahwa saya lapar—samar-samar saja.
Saya berpikir. Begitu selesai menyantap «perjamuan terakhir» ini, biar petir menyambar pun saya tak akan menyesal. Sebenarnya, saya sudah tak tahan masyarakat manusia yang terlalu hambar. Segalanya merepotkan dan menjengkelkan, tetapi bencana mendadak adalah sesuatu yang menyenangkan.
Saya melepas pikiran-pikiran itu dan dengan tenang menyantap makan malam aneh ini berdua-duaan dengan istri.
Kami suami-istri tidak punya kebiasaan mengobrol. Setelah selesai makan pun, saya bangkit pelan-pelan tanpa berkata-kata dan pindah ke kamar saya. Istri tidak menahan saya. Saya bersandar di dinding sambil duduk, menyulut sebatang rokok, lalu menunggu—kalau petir mau jatuh, jatuhlah segera.
Lima menit! Sepuluh menit!
Tetapi petir tidak menyambar. Ketegangan sedikit demi sedikit mengendur. Tahu-tahu saya sudah memikirkan untuk pergi keluar malam ini juga. Saya berpikir, andai ada uang.
Tetapi uang jelas tidak ada. Kalaupun pergi keluar hari ini, kegembiraan apa yang akan datang nanti? Di depan saya pandangan terasa gelap. Saya jengkel, bertudung selimut, dan berguling-guling ke kanan-kiri. Nasi yang baru saya santap terus naik ke tenggorokan. Saya mual.
Mengapa, sedikit pun tidak apa, uang kertas tidak turun deras dari langit bagai hujan deras? Itu terasa menyebalkan dan menyedihkan tanpa batas.
Saya hanya tahu cara mendapatkan uang sebatas itu. Tampaknya saya menangis sedikit di dalam selimut.
Karena tidak ada…….
Lalu istri datang lagi ke kamar saya. Saya terkejut dan menahan napas, mengira inilah saatnya petir menyambar, lalu bertelungkup bagai kodok. Tetapi suara istri yang menyelinap keluar dari bibirnya yang terbuka itu lembut sekali. Hangat. Istri bilang dia tahu mengapa saya menangis. Bukan karena tidak ada uang.
Saya terkejut tanpa alasan. Bagaimana mungkin dia bisa membaca dalamnya hati orang dengan jernih—bukannya saya tidak diam-diam takut sedikit pun—tetapi melihat dia bicara begitu, sepertinya dia berniat memberi saya uang, dan kalau memang demikian, betapa menggembirakannya. Saya yang masih terbungkus selimut, bahkan tanpa mengangkat kepala, menunggu gerakan istri selanjutnya. Lalu «Ini»—suara ringan benda yang dijatuhkan di sisi bantal saya, dari suaranya pasti uang kertas. Lalu di telinga saya dia berbisik bahwa hari ini boleh pulang lebih lambat dari kemarin.
Itu tidak sulit. Pertama-tama, uang itulah yang paling berkenan dan menyenangkan.
Bagaimanapun, saya berangkat. Saya agak buta malam. Karena itu saya memutuskan berjalan-jalan sebisa mungkin di jalanan yang terang.
Lalu saya mampir ke ruang teh di sudut ruang tunggu kelas satu-dua Stasiun Gyeongseong. Itu adalah penemuan besar bagi saya. Pertama-tama, tidak ada kenalan yang datang ke sana. Andaikan ada yang datang pun, mereka segera kembali, jadi enak. Saya memutuskan dalam hati akan menghabiskan waktu di sini setiap hari. Yang paling enak adalah, jam di sini pasti yang paling akurat di antara jam mana pun. Sembarangan melihat jam tak meyakinkan dan memercayainya lalu pulang sebelum waktunya bisa kena celaka besar.
Duduk berhadapan dengan kursi kosong tanpa apa-apa di satu boks, saya menyeruput kopi yang panasnya pas. Di antara kerumunan tergesa-gesa, para penumpang pun rupanya menikmati secangkir kopi. Mereka cepat-cepat menyeruput, melihat dinding seperti hendak memikirkan sesuatu, lalu segera keluar. Sungguh sedih. Tetapi bagi saya, suasana sedih ini terasa lebih akrab dan menyenangkan daripada suasana merepotkan di ruang-ruang teh kota. Sesekali suara peluit kereta yang tajam atau menggelegar terdengar lebih dekat daripada Mozart.
Saya membaca berulang-ulang beberapa nama hidangan yang tertera di menu, dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Mereka berkelap-kelip dan entah bagaimana ada kemiripannya dengan nama teman-teman masa kecil saya.
Entah sudah berapa lama saya duduk di sana sampai kesadaran saya mulai melayang-layang. Saat tamu mulai mereda dan sudut demi sudut mulai dibereskan, sepertinya sudah waktu tutup. Pukul sebelas lewat sedikit—di sini pun jelas bukan tempat istirahat saya. Ke mana saya akan melewatkan tengah malam? Sambil cemas berkali-kali, saya pun keluar. Hujan turun.
Tetes hujannya cukup besar. Sepertinya dia berniat menyusahkan saya yang tidak punya jas hujan maupun payung. Tapi terus bertingkah dengan tampilan ganjil seperti ini di aula juga tidak bisa. Ah, biar saja kena hujan, dan saya melangkah keluar.
Cuacanya sangat dingin, tak tertahankan. Pakaian korduroy mulai basah, lama-kelamaan rembesan basah meresap ke dalam dan terus melekat. Walau kena hujan, saya berniat menghabiskan waktu di jalanan sekuat tenaga. Tetapi sekarang udara terlalu dingin, dan saya tak bisa lagi bertahan. Menggigil terus-menerus, gigi gemeletukan. Saya melambatkan langkah dan berpikir. Apakah hari yang sebagaimana hari ini—buruk seperti ini—juga akan ada tamu di kamar istri? Tampaknya tidak, begitu pikir saya.
Saya harus pulang ke rumah. Kalau sayangnya ada tamu di kamar istri, saya akan memohon. Kalau saya memohon, dilihatnya hujan turun seperti ini, pastilah dia akan memahami.
Tergesa-gesa saya pulang, tetapi ternyata ada tamu di kamar istri. Karena terlalu kedinginan dan basah kuyup, dalam keadaan kalut saya lupa mengetuk. Karena itulah saya jadi melihat sesuatu yang akan membuat istri tidak senang kalau saya lihat.
Sambil meninggalkan jejak kaki seperti jejak kaki ronda, saya melangkah berderap melewati kamar istri, masuk ke kamar saya, melepas pakaian basah kuyup itu cepat-cepat, lalu bertudung selimut. Gemetar tak henti. Menggigil makin lama makin parah. Seperti biasa, tanah terasa runtuh ke bawah. Saya kehilangan kesadaran.
Esok harinya saat saya membuka mata, istri duduk di sisi bantal saya dengan wajah cukup khawatir.
Saya terkena flu. Sebagaimana sebelumnya, badan terasa menggigil, kepala sakit, mulut berair dengan rasa pahit, dan tangan-kaki terkulai lemas-malas. Istri meraba kepala saya lalu bilang saya harus minum obat. Melihat tangan istri yang segar di dahi, sepertinya demam saya cukup tinggi. Saya berpikir dalam hati, kalau minum obat ya minum antipiretik, dan istri memberi saya empat butir tablet putih dengan air hangat. Katanya, kalau ini diminum dan tidur nyenyak satu kali, akan beres. Saya menelannya tanpa ragu. Rasanya agak pahit—menurut tebakan saya, mungkin aspirin.
Saya menutup selimut lagi dan seketika tertidur seakan mati.
Sambil mengingus tersedu-sedu, saya sakit beberapa hari. Selama sakit, saya tak putus minum tablet itu.
Selama itu, flu pun sembuh. Tetapi rasa di mulut tetap pahit bagai daun pahit.
Saya perlahan ingin keluar lagi. Tetapi istri menyuruh saya tidak boleh keluar. Katanya, minum obat ini setiap hari dan berbaring tenang. Bukankah saya bodoh, keluar tanpa sebab dan kena flu sampai menyusahkan dia. Memang benar. Maka saya bersumpah tidak akan keluar dan berniat meminum obat itu terus-menerus untuk menyehatkan badan, begitu pikir saya.
Setiap hari saya bertudung selimut, siang malam tidur. Anehnya, siang malam saya begitu mengantuk sampai tak tahan. Saya percaya teguh bahwa tidur yang terus-menerus datang seperti ini adalah bukti bahwa tubuh saya jauh lebih sehat.
Tampaknya saya melewatkan kira-kira sebulan dengan cara seperti ini. Rambut dan jenggot saya tumbuh terlalu panjang sampai-sampai gatal tak tertahankan. Berniat melihat cermin sebentar, saya manfaatkan kesempatan istri keluar, pergi ke kamar istri, dan duduk di depan meja rias istri. Lumayan. Jenggot dan rambut sungguh lumayan panjang.
Sambil berpikir hari ini akan potong rambut, dan sambil iseng saya menarik tutup botol-botol kosmetik itu satu per satu, mencium ini-itu. Di antara aroma yang sempat saya lupakan, ada aroma tubuh yang bisa membuat tubuh saya melilit. Saya mengucapkan nama istri sekali, hanya dalam hati. «Yeon-sim—» begitu…… Sudah lama tak melakukan permainan kaca pembesar pun saya lakukan. Permainan cermin pun saya lakukan. Matahari yang menyinari jendela sangat hangat. Coba kupikir, bukankah ini bulan Mei?
Saya merentangkan tubuh lebar-lebar untuk meregang, mengambil bantal istri dan menaruh di bawah kepala, lalu rebahan telentang. Saya ingin memamerkan masa-masa damai dan menyenangkan seperti ini kepada Tuhan dengan sepuasnya. Saya benar-benar tidak punya urusan dengan apa pun di dunia. Tampaknya Tuhan pun tidak bisa memuji atau menghukum saya.
Namun pada saat berikutnya, sesuatu yang sungguh aneh tertangkap mata saya. Itu adalah kotak Adalin—obat tidur.
Saya menemukannya di bawah meja rias istri, dan merasa bentuknya mirip sekali dengan aspirin. Saya membukanya. Tepat empat butir kosong.
Saya ingat tadi pagi saya makan empat butir aspirin. Saya tidur. Kemarin dulu, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi…… Saya mengantuk tak tertahankan. Padahal flu saya sudah sembuh…… Istri memberi saya aspirin. Sewaktu saya tidur, pernah ada kebakaran di rumah tetangga. Saat itu pun saya tidak tahu karena tidur. Begitulah saya tidur. Saya mengira itu aspirin, padahal selama sebulan ternyata saya minum Adalin. Ini agak keterlaluan.
Tiba-tiba saya merasa pusing dan hampir-hampir pingsan. Saya memasukkan Adalin itu ke saku dan keluar rumah. Lalu saya mencari gunung dan mendaki.
Saya tak ingin melihat apa pun dari dunia manusia. Sambil berjalan, saya berusaha sebisa mungkin tidak memikirkan apa-apa yang berkaitan dengan istri. Sebab di jalan saya mudah pingsan. Saya berniat mencari tempat berjemur yang baik di mana saja, mengambil posisi, dan perlahan-lahan meneliti soal istri. Saya hanya memikirkan hal-hal kecil di pinggir jalan: lempengan batu hampar, bunga forsythia ungu yang belum pernah saya lihat, burung kutilang, atau cerita tentang batu kerikil yang juga berkembang biak. Untungnya, di pinggir jalan saya tidak pingsan.
Di sana ada bangku. Saya duduk tegak di sana, lalu meneliti soal aspirin dan Adalin itu.
Tapi kepala saya benar-benar berantakan dan pikiran tidak terbentuk sistematis. Belum sampai lima menit, pikiran enggan menyergap saya, dan saya pun jengkel. Saya mengeluarkan enam butir Adalin yang masih tersisa di saku, lalu mengunyahnya semua sekaligus kunyah-kunyah. Rasanya menggelikan. Setelah itu saya berbaring memanjang melintang di atas bangku itu. Dengan pikiran apa saya melakukan hal seperti itu, tidak tahu. Saya hanya ingin saja. Saya tertidur lelap di sana. Bahkan dalam tidur, suara air yang mengalir di antara celah batu terus terdengar samar di telinga, kapan pun.
Saat saya terbangun, hari sudah terang benderang. Saya tidur sehari-semalam di sana. Pemandangan tampak kuning saja. Di dalamnya pun, secepat kilat aspirin dan Adalin terlintas dalam benak saya.
Aspirin, Adalin, aspirin, Adalin, Marx, Malthus, matros, aspirin, Adalin…… Istri telah membohongi saya selama sebulan dengan memberi Adalin sebagai aspirin.
Itu buktinya terlalu jelas, dilihat dari fakta bahwa kotak Adalin ditemukan di kamar istri.
Dengan tujuan apa istri harus menidurkan saya siang dan malam? Setelah menidurkan saya siang dan malam, apa yang istri lakukan selama saya tidur? Apakah dia hendak membunuh saya sedikit demi sedikit? Tetapi kalau dipikir lagi, mungkin saja yang saya minum selama sebulan itu memang aspirin. Mungkin istri punya masalah yang merisaukannya, sehingga di malam hari tidur tidak datang dengan baik, dan justru istrilah yang menggunakan Adalin? Kalau memang begitu, saya benar-benar minta maaf. Saya benar-benar menyesal telah memiliki kecurigaan sebesar ini kepada istri.
Maka saya cepat-cepat turun dari sana. Bagian bawah tubuh terasa lemas dan oleng, sambil tertatih-tatih saya berjalan ke arah rumah. Sudah hampir pukul delapan.
Saya berniat menumpahkan seluruh prasangka keliru saya dan meminta maaf kepada istri. Karena terlalu terburu-buru, saya pun lupa berucap kata-kata. Lalu—wah, gawat. Saya melihat dengan mata sendiri sesuatu yang seharusnya sama sekali tidak boleh saya lihat.
Dengan kalut, saya menutup pintu kertas geser kembali. Untuk meredakan pusing yang melanda, saya menundukkan kepala, memejamkan mata, dan bersandar pada tiang—belum sedetik—pintu kertas geser kembali terbuka tiba-tiba. Istri yang pakaiannya berantakan menyembul dengan mendadak dan mencengkeram leher baju saya. Saya pusing dan tersungkur di sana.
Lalu istri menindih tubuh saya yang tergeletak itu dan menggigit kulit saya semau-maunya. Sakit sampai mati. Saya sebenarnya tidak punya niat maupun tenaga untuk melawan, jadi saya hanya tertelungkup datar sambil melihat bagaimana kelanjutannya. Lalu, tampaknya laki-laki itu keluar dan memeluk istri dalam satu rangkulan dan membawanya masuk ke kamar. Istri tanpa berkata apa-apa, dengan jinaknya terbawa masuk. Itu di mata saya luar biasa menjijikkan. Menjijikkan.
Istri berteriak-teriak: «Kau ini sepanjang malam pergi keluar untuk mencuri ya, atau main perempuan ya?» Ini benar-benar tidak adil. Saya tertegun, mulut sama sekali tidak terbuka. Saya ingin pernah berteriak sekali keras: «Bukankah kau-lah yang berniat membunuh saya?» Tetapi mengeluarkan kata sembarangan yang setengah-setengah seperti itu, entah akan kena celaka apa. Walau tidak adil, diam saja tampaknya jadi pilihan terbaik—lalu, entah dengan pikiran apa saya melakukan ini, saya menepuk tubuh dan bangkit, perlahan mengeluarkan dari saku celana beberapa won dan beberapa puluh jeon uang yang tersisa, diam-diam membuka pintu kertas geser, dan pelan-pelan meletakkannya di bawah ambang pintu. Lalu, saya berlari sekencang-kencangnya keluar.
Hampir tertabrak mobil berkali-kali, saya tetap pergi ke Stasiun Gyeongseong. Duduk berhadapan dengan kursi kosong, saya ingin menyegarkan mulut yang pahit ini dengan apa pun yang bisa membersihkan rasa.
Kopi! Bagus. Tetapi begitu saya melangkah masuk ke aula Stasiun Gyeongseong, saya sadar bahwa di saku saya tidak ada uang sepeser pun. Saya lupa hal itu. Pusing lagi. Saya hanya terhenti-henti tak berdaya entah di mana, tak tahu harus bagaimana. Bagai orang yang kehilangan akal, hanya bolak-balik ke sana-ke mari…….
Saya tidak tahu sama sekali ke mana-mana saya telah berkeliaran. Hanya, beberapa jam kemudian saat saya sadar bahwa saya berada di atap Mitsukoshi, hari sudah hampir siang bolong.
Saya duduk di sembarang tempat di sana dan menengok kembali dua puluh enam tahun yang telah saya jalani. Dari memori yang samar, tidak ada satu topik pun yang muncul.
Saya bertanya lagi kepada diri sendiri. Apa keinginanmu dalam hidup ini? Tapi mengatakan «ada» atau «tidak ada»—jawaban seperti itu pun enggan saya ucapkan. Bahkan untuk mengenali keberadaan diri saya sendiri pun saya hampir tak sanggup.
Membungkukkan pinggang, saya hanya memandangi ikan mas. Ikan-ikan mas itu sungguh berbentuk indah. Yang kecil pun, yang besar pun, semuanya segar dan enak dipandang. Cahaya matahari Mei yang turun memantulkan bayangan ikan mas di dasar mangkuk. Sirip-siripnya melambai-lambai meniru lambaian sapu tangan. Saya menghitung jumlah sirip itu, dan tidak meluruskan pinggang yang membungkuk. Punggung terasa hangat.
Saya juga menengok ke bawah ke jalan kelabu-keruh. Di sana, hidup yang lelah melenggok dan meronta-ronta bagai sirip ikan mas. Mereka tak bisa lepas, terjerat tali lengket yang tak terlihat mata. Saya berpikir, tubuh saya yang runtuh karena lelah dan lapar pun, mau tak mau, harus ikut bercampur ke dalam jalan kelabu-keruh itu.
Sambil melangkah keluar, saya tiba-tiba berpikir lagi. Kaki saya kini melangkah ke arah mana?…… Saat itu, di depan mata saya, leher istri turun bagai petir. Aspirin dan Adalin.
Kami saling salah paham. Masakan istri memberikan saya dosis penuh Adalin sebagai pengganti aspirin? Saya tak bisa memercayainya. Tak mungkin ada alasan istri berbuat demikian, jadi—apakah saya yang berbegadang sepanjang malam, mencuri atau bermain perempuan? Sungguh-sungguh tidak.
Kami suami-istri adalah pasangan pincang yang takdirnya tidak seirama langkahnya. Saya maupun istri tidak perlu memberi logika pada gerak-geriknya masing-masing. Tidak perlu pula membela diri. Fakta sebagai fakta, salah paham sebagai salah paham, kami berjalan terus tanpa henti di dunia ini sambil terseok-seok pincang. Bukankah begitu?
Tetapi apakah langkah ini harus kembali ke arah istri—hanya itu yang sulit saya pahami. Harus pulangkah saya? Lalu, ke mana harus pergi?
Saat itu, tuuu—bunyi sirene siang hari berdengung. Orang-orang seperti merentangkan keempat anggota tubuh mereka, mengepak-ngepak bagai ayam. Segala kaca, baja, marmer, uang kertas, dan tinta seperti mendidih bergolak dan beriuh-rendah—saat seperti itu! Sungguh siang hari yang gemerlapnya berpuncak.
Tiba-tiba ketiak saya gatal. Aha, itu adalah bekas tempat sayap buatan saya pernah tumbuh. Sayap yang hari ini sudah tidak ada. Di dalam kepala saya, halaman yang harapan dan ambisinya sudah dihapus berkelebatan bagai halaman kamus yang dibalik.
Saya menghentikan langkah, lalu berdiri, dan saya ingin sekali berseru begini.
Sayap, tumbuhlah lagi.
Mari terbang. Mari terbang. Sekali lagi saja, mari terbang.
Sekali lagi saja, mari mencoba terbang.