Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt
Konteks Sejarah Orang-Orang yang Tak Terlupakan (1898) – Meiji 31, Naturalisme Jepang, dan Pengaruh Wordsworth
Konteks historis Orang-Orang yang Tak Terlupakan (1898) karya Kunikida Doppo: era Meiji 31, awal naturalisme Jepang, majalah Kokumin no Tomo, pengaruh William Wordsworth, dan kelahiran cerpen modern Jepang.
Pagera Editorial
Memahami Orang-Orang yang Tak Terlupakan (忘れえぬ人々, 1898) karya Kunikida Doppo memerlukan pemahaman tentang lima konteks yang saling jalin: era Meiji 31, gerakan naturalisme Jepang awal, majalah Kokumin no Tomo, pengaruh William Wordsworth, dan lokasi geografis cerpen ini.
Sebelum kita masuk, Anda dapat membaca terjemahan Indonesia lengkapnya di Pagera secara gratis.
1. Meiji 31 — Saat Jepang Sedang Mereformulasi Dirinya
Tahun 1898 adalah Meiji 31 — sudah tiga puluh tahun sejak Restorasi Meiji 1868. Pada saat itu, Jepang telah menyelesaikan revisi perjanjian yang tidak setara dengan negara-negara Barat (1894), memenangi Perang Sino-Jepang Pertama (1894-95) dan mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan regional pertama di Asia. Tokyo telah memiliki kereta listrik, kabel telegraf bawah laut menghubungkan Yokohama dengan Eropa, dan lulusan universitas Tokyo telah pulang dari Heidelberg dan Cambridge.
Tetapi di pinggiran Tokyo — di kota persinggahan kecil seperti Mizoguchi di Prefektur Kanagawa, sehabis menyeberangi penyeberangan Futako di Sungai Tama — kehidupan masih bergerak dengan irama Edo: penginapan pengelana berlantai tatami, atap ilalang, waraji (sandal jerami), kiseru (pipa rokok), hibachi (anglo arang). Justru kontras inilah yang dipilih Doppo sebagai latar pembuka cerpennya. Mizoguchi pada Maret 1898 adalah liminal — tempat di mana Meiji modern dan Edo tradisional berjumpa.
2. Kelahiran Naturalisme Jepang — Sebelum Tayama Katai
Sastra Meiji sebelum tahun 1900 didominasi oleh dua aliran: gerakan terjemahan dari sastra Barat (Futabatei Shimei menerjemahkan Turgenev pada 1888), dan gerakan klasikisme (Ozaki Kōyō dan Ken'yūsha yang masih menghidupkan gaya Edo). Doppo termasuk dalam kategori ketiga — generasi muda yang ingin memandang dunia langsung melalui mata individu, tanpa filter aliran apa pun.
Cerpen-cerpen Doppo dari 1898 — terutama Musashino dan Orang-Orang yang Tak Terlupakan — kemudian dianggap sebagai karya proto-naturalisme Jepang. Mereka mendahului karya-karya Tayama Katai (Futon, 1907), Shimazaki Tōson (Hakai, 1906), dan Tokuda Shūsei. Bersama Futabatei Shimei dan keempat tokoh itu, Doppo membentuk lima pilar naturalisme Meiji.
Yang membedakan Orang-Orang yang Tak Terlupakan dari naturalisme Eropa adalah penekanannya pada refleksi batin alih-alih determinisme sosial. Doppo tidak menulis tentang nasib kelas pekerja seperti Zola; ia menulis tentang dampak orang-orang asing pada hati seseorang yang sendiri di larut malam.
3. Majalah Kokumin no Tomo dan Sirkuit Sastra Meiji
Orang-Orang yang Tak Terlupakan pertama kali diterbitkan di majalah Kokumin no Tomo (国民之友, "Sahabat Bangsa") pada April 1898. Majalah ini didirikan Tokutomi Sohō pada 1887 dan menjadi corong utama gerakan min'yū-sha (民友社) — gerakan jurnalisme progresif yang mempromosikan ide-ide kebebasan dan partisipasi rakyat. Tokutomi sendiri adalah mentor Doppo, dan justru di sekitar lingkaran Kokumin no Tomo-lah Doppo pertama kali muncul sebagai jurnalis (di majalah Kokumin Shimbun yang berhubungan) sebelum mengubah karier ke kesusastraan.
Cerpen ini kemudian dimasukkan ke dalam kumpulan Musashino yang diterbitkan tahun 1901 — kumpulan inilah yang membuat Doppo dikenal luas sebagai sastrawan. Musashino dianggap salah satu terbitan kunci sastra Meiji akhir, dan Orang-Orang yang Tak Terlupakan adalah cerpen pembuka paling matang di dalamnya.
4. Pengaruh William Wordsworth — Wahyu Sederhana di Pinggir Jalan
Doppo adalah salah satu pembaca paling tekun William Wordsworth (1770~1850) di antara sastrawan Meiji. Ia menerjemahkan Lyrical Ballads (1798) — terutama puisi-puisi seperti "There Was a Boy", "Lucy Gray", dan "The Solitary Reaper" — yang semuanya berkisah tentang sosok sederhana di pinggir jalan yang mendadak menjadi sumber wahyu spiritual bagi penyair yang melewatinya.
Pola ini terbaca persis di Orang-Orang yang Tak Terlupakan. Tiga sosok dalam naskah Ōtsu — lelaki pemungut kerang di pulau Setouchi, penggembala kuda di Miyaji, dan biwa-sō di Mitsugahama — semuanya adalah varian Wordsworth versi Jepang: orang sederhana yang sekilas, namun yang justru karena kesederhanaannya menjadi sumber penerangan batin.
Bedanya, Doppo menambahkan satu lapisan yang khas Asia: refleksi tentang kesatuan langit-bumi dan simpati universal ("kita semua menerima hidup ini di satu sudut langit dan satu pojok bumi"). Ini lebih dekat ke tradisi Tao-Buddha ketimbang ke Romantisisme Inggris. Doppo menggabungkan dua tradisi ini dengan cara yang baru — dan inilah sumbangannya yang paling khas pada sastra modern Jepang.
5. Geografi Cerpen — Empat Lokasi Indonesia Bisa Bayangkan
Lima lokasi dalam cerpen ini, semuanya nyata dan masih bisa dilihat hari ini:
- Mizoguchi (溝口) — sekarang bagian dari Kota Kawasaki, Kanagawa. Pada 1898 adalah kota persinggahan kecil di rute Kōshū-kaidō. Penyeberangan Futako masih ada dalam bentuk jembatan modern.
- Selat Pedalaman Setouchi (瀬戸内) — antara Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Doppo menempuhnya dengan kapal uap pada usia 19, dalam perjalanan pulang ke kampung halaman karena sakit. "Pulau kecil pohon pinus" yang ia gambarkan adalah salah satu dari ratusan pulau kecil di selat ini.
- Gunung Aso (阿蘇山) di Kyūshū — masih aktif sampai hari ini, salah satu kawah gunung berapi terbesar di dunia. Lima ribu meter chōbu — sekitar ribuan hektare — kaldera-nya menampung kota-kota Miyaji dan Tateno yang Doppo lewati pada 1893.
- Mitsugahama (三津が浜) — pelabuhan tua di Prefektur Ehime, Shikoku. Pintu masuk ke Kota Matsuyama. Pasar ikan pagi yang Doppo gambarkan masih berlangsung sampai sekarang.
- Tōhoku — wilayah timur laut Honshū. Tempat Ōtsu tinggal "karena suatu sebab" dua tahun setelah pertemuan Mizoguchi. Lokasi yang tidak disebut secara persis — sengaja kabur untuk memberi kesan keasingan dan kesepian.
Mengapa Konteks Ini Penting Bagi Pembaca Indonesia?
Indonesia pada 1898 berada di puncak masa kolonial Belanda, sebelum tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Mas Marco Kartodikromo membuka jalan ke sastra modern Indonesia. Membaca Orang-Orang yang Tak Terlupakan dari sudut Jepang Meiji 31 memberi kita perbandingan menarik: bagaimana sebuah bangsa Asia membangun sastra modernnya sambil tetap berakar pada estetika Asia (kesatuan langit-bumi, simpati pada sesama, yūgen). Pola ini kemudian menjadi inspirasi langsung bagi sastrawan Indonesia abad ke-20 yang membaca sastra Jepang dalam terjemahan — termasuk Pramoedya Ananta Toer yang sangat menyukai Akutagawa.
Doppo membuktikan bahwa pengaruh Barat (Wordsworth) tidak harus berarti meniru Barat — pengaruh itu bisa menjadi katalisator yang membantu kita merumuskan ulang tradisi sendiri. Pesan ini, kami harap, tetap relevan bagi pembaca Indonesia hari ini.
Bacaan lanjutan: Penulis Kunikida Doppo (1871-1908) | Burung Musim Semi (1904)