Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Seoul 1924, Becak, dan Seolleongtang: Konteks Hari yang Beruntung

Untuk memahami Hari yang Beruntung sepenuhnya, pembaca perlu mengenal lima konteks: Seoul masa kolonial 1924, ekonomi penarik becak (illyeokga-kkun), majalah Gaebyeok dan kebangkitan sastra Korea, makanan rakyat dari seolleongtang sampai nasi jawawut, dan ironi sebagai senjata sastra anti-kolonial.

Pagera Editorial

Sebuah cerpen sastra besar tidak pernah hidup hanya di halamannya sendiri — ia menghidupkan dirinya dari lima atau enam konteks historis yang membayanginya. Untuk membaca Hari yang Beruntung karya Hyun Jin-geon dengan kedalaman penuh, pembaca Indonesia perlu mengenal lima lapis konteks yang sering tidak diterjemahkan secara eksplisit dalam teks. Berikut adalah panduan kontekstual lima lapis tersebut.

1. Seoul Masa Kolonial Jepang, 1910–1945

Pada 22 Agustus 1910, Korea secara resmi dianeksasi oleh Kekaisaran Jepang melalui Perjanjian Aneksasi Jepang–Korea. Pendudukan akan berlangsung 35 tahun, sampai 15 Agustus 1945. Pada 1924 — tahun cerpen ini ditulis — Korea berada di tengah-tengah masa yang dikenal sebagai Munhwa Tongchi (문화통치, "Aturan Budaya"), kebijakan kolonial yang lebih halus tetapi tetap menindas, diterapkan setelah Gerakan 1 Maret 1919 yang ditumpas dengan kekerasan.

Seoul (saat itu disebut Gyeongseong, 京城 — "Ibu Kota" dalam karakter Jepang) sedang mengalami transformasi paksa: trem listrik dipasang dari 1899, Stasiun Namdaemun (yang muncul di cerpen) baru-baru saja menjadi terminal Kereta Api Korea, dan gedung-gedung administrasi kolonial bergaya barat menggantikan istana-istana lama. Tetapi modernisasi ini hanya menguntungkan elit kolonial dan kelas atas Korea yang berkompromi. Mayoritas rakyat Korea, seperti Kim Cheomji, hidup di rumah sewa hanok berdinding tipis di gang-gang sempit, makan nasi jawawut yang termurah, dan bekerja sebagai buruh kasar yang penghasilannya bergantung pada cuaca.

2. Illyeokga-kkun: Penarik Becak sebagai Profesi Bawah

Becak (illyeokga 인력거 — secara harfiah "kendaraan ditarik manusia") diperkenalkan dari Jepang ke Korea pada akhir abad ke-19. Pada 1920-an, di Seoul tercatat sekitar 3.000 hingga 5.000 illyeokga-kkun — sebuah angka besar untuk kota yang penduduknya sekitar 250.000. Tarif standar adalah 10–30 jeon untuk perjalanan pendek dalam batas Empat Gerbang Seoul; 50 jeon hingga 1 won untuk perjalanan ke Stasiun Namdaemun atau Yongsan.

Saat Kim Cheomji menyebut "satu won lima puluh jeon" untuk Stasiun Namdaemun di hari hujan, ia menyebut harga yang sungguh-sungguh tinggi — dan ia sendiri terkejut dengan keberaniannya. Bandingkan: sewa kamar luar tempat ia tinggal hanya satu won per bulan. Artinya, satu perjalanan itu sama dengan sewa kamar sebulan penuh. Inilah skala ekonomi yang membuat "keberuntungan" Kim Cheomji terasa seperti mukjizat — dan membuat ironi tragisnya begitu pedih.

Sebagai profesi, illyeokga-kkun berada di lapisan terbawah ekonomi Seoul kolonial: tidak ada pensiun, tidak ada asuransi kesehatan, kondisi cuaca menentukan apakah keluarga makan hari itu. Pada akhir 1920-an, profesi ini mulai digantikan oleh taksi bermotor dan trem listrik yang diperluas; pada 1945 hampir hilang sepenuhnya. Hyun Jin-geon menulis tentang lapisan masyarakat yang sedang menjelang kepunahan ekonomi.

3. Gaebyeok dan Kebangkitan Sastra Korea 1920-an

Gaebyeok (개벽, secara harfiah "Pencerahan" atau "Pembukaan Cakrawala Baru") adalah majalah sastra dan filsafat Korea yang terbit dari 25 Juni 1920 sampai 1949 (dengan beberapa interupsi sensorial). Diterbitkan oleh sekte religius Cheondogyo (천도교, "Jalan Surga"), majalah ini menjadi gerbang utama tempat sastra Korea modern pertama kali memasuki publik.

Tiga generasi sastrawan Korea modern memulai karier mereka di halaman Gaebyeok: Kim Dong-in menerbitkan Hari Sungguh Lemah di sini (1919), Yeom Sang-seop menerbitkan Tubuh dan Bunga (1921), dan Hyun Jin-geon menerbitkan hampir semua cerpen besarnya dari 1920–1926 di Gaebyeok. Hari yang Beruntung terbit di edisi ke-48, Juni 1924.

Majalah ini juga merupakan target tetap sensor kolonial Jepang. Dari 1920–1925, lebih dari 30 edisi disita atau dilarang beredar; pada 1926, majalah ditutup paksa selama tujuh tahun setelah menerbitkan artikel kritis tentang kebijakan kolonial. Membaca Hari yang Beruntung di edisi Juni 1924 berarti membacanya di tengah sensor yang ketat — sehingga ironi Hyun Jin-geon menjadi pilihan strategis: kritik kolonialisme tanpa pernah menyebutkan kolonialisme.

4. Makanan: Seolleongtang, Nasi Jawawut, dan Makgeolli

Tiga makanan muncul berulang dalam cerpen, dan masing-masing membawa makna sosial yang spesifik:

Seolleongtang (설렁탕) — sup tulang sapi tradisional Korea yang direbus 6–12 jam sehingga kuahnya menjadi putih susu. Pada 1920-an, semangkuk seolleongtang di warung makan Seoul harganya sekitar 15–20 jeon — setara harga makan keluarga miskin dua hari. Bagi Kim Cheomji yang membelikan istrinya yang sakit, ini adalah makanan mewah yang sudah lama tak terbayar.

Nasi jawawut (조밥 / jobap) — nasi yang dibuat dari biji jawawut (foxtail millet, Setaria italica), bukan dari beras. Pada 1920-an, beras putih sebagian besar dialihkan ke Jepang sebagai bagian dari kebijakan kolonial; rakyat Korea biasa makan jawawut sebagai pengganti murah. Jawawut lebih cepat membuat kenyang tetapi sulit dicerna — istri Kim Cheomji jatuh sakit setelah memakan jawawut yang belum matang dengan kalap.

Makgeolli (막걸리, dalam teks Hyun disebut moju 모주) — bir beras tradisional Korea yang difermentasi, alkohol rendah, warna susu keruh, harga termurah di antara semua minuman. Di tahun 1920-an, secangkir makgeolli adalah teman tetap pekerja kasar Korea — termasuk illyeokga-kkun seperti Kim Cheomji.

5. Ironi sebagai Senjata Anti-Kolonial

Mengapa Hyun Jin-geon memilih ironi — bukan protes terbuka? Ada dua alasan, satu praktis dan satu estetis.

Alasan praktis: Sensor kolonial Jepang akan menyita majalah yang menulis protes terbuka. Tetapi sebuah cerpen tentang penarik becak yang istrinya mati menunggu seolleongtang — secara permukaan, tidak menyebut Jepang sama sekali. Bagaimana sensor bisa melarangnya? Sensor terpaksa membiarkannya lewat, tetapi setiap pembaca Korea tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.

Alasan estetis: Protes terbuka mudah dilupakan; ironi yang halus terus menggigit. Judul "Hari yang Beruntung" akan terus terngiang di benak pembaca lama setelah halaman ditutup. Setiap kali pembaca itu sendiri mengalami "hari yang beruntung" — mereka akan teringat Kim Cheomji, dan bertanya pada diri sendiri: apakah hari ini benar-benar beruntung, atau apakah ada seseorang yang sedang menunggu di rumah dengan kenyataan yang lebih pahit?

Inilah kekuatan realisme Hyun Jin-geon. Bukan kebenaran yang dikhotbahi — kebenaran yang dialami pembaca sendiri, melalui ironi yang tak terlupakan.

Pelajari konteks sastra Korea kolonial lebih dalam dengan membaca cerpen-cerpen lain dari periode yang sama di Pagera: Kentang (Kim Dong-in), Hujan Lebat (Kim Yu-jeong), Si Bisu Samryong (Na Do-hyang).

Baca Hari yang Beruntung karya Hyun Jin-geon di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera