Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Ringkasan Menara London karya Natsume Sōseki – Kenangan Tudor di Tower of London 1900

Ringkasan lengkap Menara London (倫敦塔, Rondon-tō, 1905) karya Natsume Sōseki: kenangan kunjungan tunggal Sōseki ke Tower of London selama dua tahun belajarnya di Inggris (1900–1902). Cerpen fantastik 余裕派 yang menempatkan Sōseki sebagai pelopor sastra historis-fantastik Jepang modern.

Pagera Editorial

Ringkasan Menara London (倫敦塔, Rondon-tō, 1905) karya Natsume Sōseki membawa pembaca ke dalam kenangan tunggal yang tak pernah ia ulangi: kunjungannya ke Tower of London selama dua tahun masa belajarnya di Inggris (1900–1902). Diterbitkan di majalah Teikoku Bungaku edisi Januari 1905 dan kemudian dihimpun dalam kumpulan Yōkyoshū (1906), karya ini menjadi salah satu cerpen fantastik paling awal dan paling matang Sōseki — sekaligus manifesto aliran 余裕派 (yoyū-ha, "aliran ketenangan") yang ia pimpin.

Kalimat pembuka karya menjadi sumpah Sōseki kepada Tower of London:

"Selama dua tahun belajar di luar negeri, hanya satu kali aku berkunjung ke Menara London. Setelah itu pernah terbersit hari untuk pergi lagi, namun kuurungkan… Bagiku, kunjungan ke «Menara» sebaiknya cukup sekali saja."

Baca terjemahan Indonesia lengkapnya secara gratis di Pagera.

Bab I — Dari Jembatan Menara, Menatap ke Seberang Thames

Sōseki memulai dengan ingatan tentang masa awalnya di London — seorang Jepang yang baru tiba, tak tahu arah mata angin, "seperti kelinci dari Gotemba yang dilemparkan ke tengah Nihonbashi". Pada salah satu hari di awal musim dingin yang sepi, ia berdiri di atas Jembatan Menara (Tower Bridge, baru selesai 1894) dan menatap ke seberang Sungai Thames. Di sana, di tengah kabut grey-yellow yang khas musim dingin London, berdirilah Menara London — "dengan dingin meremehkan abad ke-20, seakan berkata: Walau kereta uap berlari, walau kereta listrik berlari — selama masih ada sejarah, Aku-lah satu-satunya yang akan tetap seperti ini."

Saat Sōseki melewati gerbang Menara, di pintu masuknya seakan terukir enam baris yang merujuk pada Inferno Dante Canto III — pintu masuk neraka:

"Siapa yang hendak menuju negeri kesedihan, lewatilah gerbang ini… Siapa yang melewati gerbang ini, tinggalkanlah segala harapan."

Bab pertama ditutup dengan khayalan pertama: dua pangeran cilik (Edward V berusia 12 tahun dan adiknya Richard 9 tahun, yang dipenjarakan ayah-paman mereka Richard III pada 1483) terlihat di kamar Menara Berdarah, sang kakak membacakan kitab doa kepada sang adik, sementara di luar angin musim gugur kering menderu.

Bab II — Pertemuan dengan Sang Ibu, Dialog Pembunuh, dan Beauchamp Tower

Khayalan berlanjut: ibu kedua pangeran (Elizabeth Woodville, istri Edward IV) muncul di gerbang Menara dengan jubah berkabung hitam, memohon kepada penjaga penjara — dengan rantai emas — agar diizinkan menemui putra-putranya. Penjaga, dengan iba, menolak. Lalu panggung berubah dan dua bayangan hitam berjangkung-pendek muncul di sudut halaman — para algojo yang baru saja mencekik kedua pangeran, saling berbisik tentang bagaimana "bibir seperti bunga itu bergetar pirit" dan "urat warna ungu muncul di dahi yang tembus pandang".

Sōseki lalu masuk ke Menara Putih (White Tower) — menara utama 1066 William the Conqueror — di mana ia melihat baju zirah Henry VI dan bertemu seorang Beefeater (Yeoman Warder berbaju merah Tudor) yang menunjukkan baju zirah Jepang kuno yang konon dipersembahkan dari Mongol kepada Raja Charles II.

Klimaks Bab II adalah Menara Beauchamp (Beauchamp Tower, dibangun Edward III pertengahan abad ke-14) — di mana 91 prasasti tahanan terukir di seluruh dinding. Sōseki menatap satu per satu: "Pengharapanku ada dalam Kristus" (biarawan Pasley, dipenggal 1537), "JOHAN DECKER" (entah siapa), "Hormatilah semua orang. Sayangilah setiap makhluk. Takutilah Tuhan. Hormatilah Raja." Bab II diakhiri dengan khayalan ruang bawah tanah: dua algojo mengasah kapak sambil bernyanyi "Mana mungkin terpotong leher perempuan ini — dendam asmara saja membuat pisaunya patah."

Bab III — Lady Jane Grey dan Sembilan Bait Ainsworth

Bab III dimulai dengan kelanjutan lagu algojo — dan kemudian Sōseki melihat lambang ukiran keluarga Dudley dengan beruang dan singa, dengan empat bunga alegoris yang melambangkan empat saudara: Acorns (Ambrose), Rose (Robert, kekasih Ratu Elizabeth I kemudian), Honeysuckle (Henry), dan Geranium (G… yang tertahan di bibir perempuan misterius — Guildford Dudley, suami Lady Jane Grey).

Lalu khayalan kedua: Lady Jane Grey (1537–1554, Ratu Sembilan Hari, dipenggal 12 Februari 1554 pada usia 17 tahun) di tempat eksekusi. Sōseki menggambarkan setiap detail dengan kelembutan dan jarak ironis — Jane mengenakan baju putih bagai salju, dengan rambut emas yang melebihi bahunya, menutup matanya dengan saputangan putih, dan meraba bantalan eksekusi. Sebelum kepalanya tertebas, ia berbicara kepada biarawan Anglikan: "Yang benar adalah jalan yang dipercayai aku dan suamiku. Jalan kalian adalah jalan kesesatan."

Bab III memuat sembilan bait puisi William Harrison Ainsworth dari novelnya The Tower of London (1840), yang dipertahankan dalam Bahasa Inggris asli dalam terjemahan Pagera — karena Sōseki sendiri menjelaskan di akhir bab: "Aku ingin menerjemahkan seluruh bait ini, tetapi tidak berjalan sebagaimana yang kuinginkan, dan lagipula khawatir terlalu panjang, maka kuhentikan." Sōseki juga mengakui di bab ini bahwa ide algojo yang mengasah kapak sambil bernyanyi diambil dari Ainsworth, sementara adegan dua pangeran dicekik dipinjam dari Richard III Shakespeare.

Bab III ditutup dengan kembali ke realitas: ketika Sōseki menceritakan perjumpaan dengan perempuan misterius dan lima gagak kepada pemilik penginapannya, pemilik menjelaskan dengan tawa: "Ah, gagak persembahan itu. Sejak dahulu kami memelihara mereka di sana, dan bila satu pun jumlahnya kurang, segera kami buatkan penggantinya. Karena itu, gagak itu selalu lima ekor." Pemilik London abad ke-20 yang menghancurkan separuh khayalan Sōseki.

Bab IV — Catatan Penulis (20 Desember 1904)

Sōseki menutup karyanya dengan catatan singkat tiga paragraf: ia mengakui pengaruh lukisan Paul Delaroche (The Princes in the Tower, 1830; The Execution of Lady Jane Grey, 1833), mengingatkan pembaca bahwa Wyatt ayah dan anak punya nama yang sama, dan mengakui bahwa "sebagian besar adalah tulisan yang penuh khayalan".

Mengapa "Menara London" Penting?

Karya ini menempati posisi unik dalam karya Sōseki:

  1. Cerpen fantastik pertama yang matang — sebelum «Yume Jūya» (1908) yang lebih terkenal.
  2. Pendahulu langsung «Yume Jūya» dalam mengangkat tema mimpi-kenangan sebagai alegori sejarah.
  3. Posisi 余裕派 yang jelas — Sōseki menulis "aku tak akan menggubah puisi perpisahan pun. Setelah mati, aku tak akan minta dibangunkan batu nisan pun" — reflektif, jarak ironis, tanpa naturalisme.
  4. Pertukaran East-West — Sōseki Jepang menatap sejarah Inggris Tudor dengan empati sastrawi, sambil tetap melihat Beefeater seperti "seorang yang muncul tiga atau empat ratus tahun dari masa lalu".

Baca Menara London secara penuh di Pagera (gratis, terjemahan Indonesia). Karya ini menjadi jembatan antara pengalaman London Sōseki 1900–1902 dan karya-karya besarnya yang akan datang: Wagahai wa Neko de Aru (1905), Botchan (1906), dan Yume Jūya (1908).

Catatan untuk Pembaca Muslim: Karya ini menggambarkan tempat eksekusi sejarah dengan adegan kapak dan darah sebagai konteks sejarah, bukan glorifikasi kekerasan; kutipan Dante Inferno III diperlakukan sebagai sitiran sastra abad pertengahan, bukan ajakan teologis. Pagera menambahkan catatan editor di deskripsi buku untuk transparansi.


Bacaan lanjutan tentang Natsume Sōseki dan sastra Meiji:

Kembali ke Pagera