
雲のいろ/\
幸田露伴 · Jepang
Esai-katalog klasik Kōda Rohan (1867–1947) tentang awan — disusun dengan suara seorang sarjana Meiji yang menatap langit dari geladak kapal di selat…
Menampilkan terjemahan Indonesia saja.
Lihat teks asli dan terjemahan secara berdampingan.
Baca teks sumber tanpa terjemahan.
Catatan Editor Pagera
Esai-katalog klasik Kōda Rohan (1867–1947) tentang awan — disusun dengan suara seorang sarjana Meiji yang menatap langit dari geladak kapal di selat Nada, dari puncak gunung beraroma musim panas, dari jalan-jalan Tokyo yang dipayungi awan musim gugur. Penulis menyusun nama-nama awan yang nyaris terlupakan: Tanba-Tarō dan Bandō-Tarō (awan-raksasa daerah), kupu-kupu, anak-babi, ikan-sarden, awan-bendera, awan-payung, awan-landasan-besi — masing-masing diuji dengan sitiran waka klasik (Jichin, Jakuren, Nakamasa, Sanetake) dan shi Tiongkok (Su Dongpo, Du Fu), kitab perang Edo, dan peribahasa rakyat. Bukan ilmu meteorologi, bukan teologi: ini adalah pelajaran melihat — bagaimana satu nama yang tepat dapat menyalakan kembali pemandangan yang sudah ratusan tahun dilihat orang. Bagi pembaca Indonesia, bab ini juga membuka jendela langka ke estetika langit Asia Timur klasik — di mana awan bukan sekadar cuaca, melainkan saudara puisi.
雲のいろ/\
幸田露伴 · Jepang
Esai-katalog klasik Kōda Rohan (1867–1947) tentang awan — disusun dengan suara seorang sarjana Meiji yang menatap langit dari geladak kapal di selat…
Pratinjau paragraf pertama
Teks asli (Jepang)
夏より秋にかけての夜、美しさいふばかり無き雲を見ることあり。都会の人多くは心づかぬなるべし。舟に乗りて灘を行く折、天暗く水黒くして月星の光り洩れず、舷を打つ浪のみ青白く騒立ちて心細く覚ゆる沖中に、夜は丑三つともおもはるゝ頃、艙上に独り立つて海風の面を吹くがまゝ衣袂湿りて重きをも問はず、寝られぬ旅の情を遣らんと詩など吟ずる時、いなづま忽として起りて、水天一斉に凄じき色に明るくなり、千畳万畳の濤の頭は白銀の簪したる如く輝き立つかと見れば、怪しき岩の如く獣の如く山の如く鬼の如く空に峙ち蟠まり居し雲の、皆黄金色の笹縁つけて、いとおごそかに、人の眼を驚かしたる、云はんかたなく美し。
Terjemahan Indonesia (Pagera AI)
Lihat pratinjau terjemahan di pembaca.
Catatan Editor Pagera
Esai-katalog klasik Kōda Rohan (1867–1947) tentang awan — disusun dengan suara seorang sarjana Meiji yang menatap langit dari geladak kapal di selat Nada, dari puncak gunung beraroma musim panas, dari jalan-jalan Tokyo yang dipayungi awan musim gugur. Penulis menyusun nama-nama awan yang nyaris terlupakan: Tanba-Tarō dan Bandō-Tarō (awan-raksasa daerah), kupu-kupu, anak-babi, ikan-sarden, awan-bendera, awan-payung, awan-landasan-besi — masing-masing diuji dengan sitiran waka klasik (Jichin, Jakuren, Nakamasa, Sanetake) dan shi Tiongkok (Su Dongpo, Du Fu), kitab perang Edo, dan peribahasa rakyat. Bukan ilmu meteorologi, bukan teologi: ini adalah pelajaran melihat — bagaimana satu nama yang tepat dapat menyalakan kembali pemandangan yang sudah ratusan tahun dilihat orang. Bagi pembaca Indonesia, bab ini juga membuka jendela langka ke estetika langit Asia Timur klasik — di mana awan bukan sekadar cuaca, melainkan saudara puisi.

Status terjemahan
Buku lain dari penulis ini
Pertanyaan yang sering diajukan
Yes — completely free. This book is in the public domain, so Pagera offers the full text without payment or account requirement. Pagera is funded by advertising.
Baca gratis
Mulai membaca langsung — tanpa perlu mendaftar. Buat akun gratis untuk lebih banyak buku dan fitur.