中島敦
章魚木の下で
中島敦 · Jepang
Nakajima Atsushi menulis esai ini tak lama setelah kembali dari Kepulauan Selatan (Nan'yō Guntō) ke Tokyo pada 1942, setahun sebelum ia wafat.
Menampilkan terjemahan Indonesia saja.
Lihat teks asli dan terjemahan secara berdampingan.
Baca teks sumber tanpa terjemahan.
Catatan Editor Pagera
Nakajima Atsushi menulis esai ini tak lama setelah kembali dari Kepulauan Selatan (Nan'yō Guntō) ke Tokyo pada 1942, setahun sebelum ia wafat. Di bawah bayang-bayang Pohon Pandanus yang pernah menaunginya di pulau-pulau Pasifik, ia merenungkan satu pertanyaan yang menghantui para sastrawan di masa perang: apakah sastra dapat — dan seharusnya — berguna bagi perang? Dengan kejujuran yang sinis namun tenang, Nakajima mengakui bahwa selama di Selatan ia sama sekali tidak memikirkan hal itu, dan ia bertanya-tanya apakah cara berpikirnya yang santai itu sudah benar-benar pergi. Esai ini adalah salah satu pernyataan terakhir seorang sastrawan besar tentang martabat sastra — bukan sebagai alat propaganda, melainkan sebagai sesuatu yang terlalu tinggi untuk digantikan.
章魚木の下で
中島敦 · Jepang
Nakajima Atsushi menulis esai ini tak lama setelah kembali dari Kepulauan Selatan (Nan'yō Guntō) ke Tokyo pada 1942, setahun sebelum ia wafat.
Pratinjau paragraf pertama
Teks asli (Jepang)
南洋群島の土人の間で仕事をしていた間は、内地の新聞も雑誌も一切目にしなかった。文学などというものも殆ど忘れていたらしい。その中に戦争になった。文学に就いて考えることは益々無くなって行った。数ヶ月してから東京へ出て来た。気候ばかりでなく、周囲の空気が一度に違ったので、大いに面喰った。本屋の店頭に堆高く積まれた書物共を見て私は実際仰天した。久しぶりで文学作品を読むと流石に面白くはあったが、南洋呆けして粗雑になった私の頭には、稍々微妙に過ぎ難解に感じられることが無いではなかった。この事は作品以外の批評や感想などに至って更に其の度を増した。文壇の事情に就いての予備知識が全然欠けていること、当然知っていなければならない幾つかの術語や合言葉を知らないこと、私が心理的にも論理的にも余りに大ザッパな単純な人間になり過ぎて了ったこと、之等がその原因のようである。併し、とにもかくにも其等の文章を通じて、文学をする者にとっての現在の問題というものが朧げながら判っては来た。思えば自分は今迄章魚木の下で、時局と文学とに就いて全く何とノンビリした考え方しかしていなかったことかと我ながら驚いた。ノンビリした考えどこ
Terjemahan Indonesia (Pagera AI)
Lihat pratinjau terjemahan di pembaca.
Catatan Editor Pagera
Nakajima Atsushi menulis esai ini tak lama setelah kembali dari Kepulauan Selatan (Nan'yō Guntō) ke Tokyo pada 1942, setahun sebelum ia wafat. Di bawah bayang-bayang Pohon Pandanus yang pernah menaunginya di pulau-pulau Pasifik, ia merenungkan satu pertanyaan yang menghantui para sastrawan di masa perang: apakah sastra dapat — dan seharusnya — berguna bagi perang? Dengan kejujuran yang sinis namun tenang, Nakajima mengakui bahwa selama di Selatan ia sama sekali tidak memikirkan hal itu, dan ia bertanya-tanya apakah cara berpikirnya yang santai itu sudah benar-benar pergi. Esai ini adalah salah satu pernyataan terakhir seorang sastrawan besar tentang martabat sastra — bukan sebagai alat propaganda, melainkan sebagai sesuatu yang terlalu tinggi untuk digantikan.
中島敦
Status terjemahan
Buku lain dari penulis ini
Pertanyaan yang sering diajukan
Yes — completely free. This book is in the public domain, so Pagera offers the full text without payment or account requirement. Pagera is funded by advertising.
Baca gratis
Mulai membaca langsung — tanpa perlu mendaftar. Buat akun gratis untuk lebih banyak buku dan fitur.