
현해탄(玄海灘)
Lim Hwa · Korea
Puisi judul kumpulan «Hyeonhaetan» (현해탄, 1938) karya Lim Hwa (1908~1953), tokoh pimpinan KAPF (Federasi Seniman Proletar Korea).
Menampilkan terjemahan Indonesia saja.
Lihat teks asli dan terjemahan secara berdampingan.
Baca teks sumber tanpa terjemahan.
Catatan Editor Pagera
Puisi judul kumpulan «Hyeonhaetan» (현해탄, 1938) karya Lim Hwa (1908~1953), tokoh pimpinan KAPF (Federasi Seniman Proletar Korea). Diterbitkan oleh Donggwang Seorim 1938. Puisi bebas 19 bait 100 baris yang ditulis 3 tahun setelah pembubaran paksa KAPF (1935) dan merupakan puisi inti dalam kumpulan puisi pertama Lim Hwa. Merupakan retrospeksi puncak masa studi penyair di Tokyo (1926~1928) dan refleksi nasib pemuda Korea kolonial. Memuat seruan «Pemuda-pemuda!» (청년들아!) + nama tempat «Hyeonhaetan» (玄海灘, selat sempit antara Korea-Jepang) + «Gwanmun Haehyeop» (關門海峽, Selat Shimonoseki Jepang sebagai pengelakan sensor melalui huruf han-ja) + «Samdeung-seonsil» (삼등선실, kelas tiga kapal sebagai status buruh/mahasiswa Korea kolonial) + «kata-kata luar» (외방 말, bahasa Jepang sebagai pengelakan sensor) + kata serapan «Mont Blanc» + perumpamaan «kain duka hitam» (喪帳) untuk pemakaman + seruan 5 generasi «Tahun 1890-an~1940-an~19XX-an» (Donghak·Pemberontak·3.1·KAPF·masa depan) + anafora 4 kali «Ada orang yang...» pada bait penutup (yang menyeberang tak kembali/kembali lalu mati/hilang sama sekali/kalah) + seruan akhir «Oh! Hyeonhaetan» + perumpamaan «lebih ringan dari batu kerikil» untuk tekad pemuda + akhir masa depan «Ketika bintang fajar memantulkan nama-nama kalian». Bait penutup c1-p019 «Namun kami masih / berada di atas gelombang tinggi laut ini» = puncak nafas keputusan tahun 1938. Setelah puisi naratif pendek «Kakakku dan Tungku Api» (1929) yang berbentuk surat keluarga, karya ini merupakan puncak puisi Lim Hwa dengan skala lintas generasi dan historis yang menggambarkan nasib pemuda Korea kolonial dalam puisi judul kumpulan «Hyeonhaetan». Catatan editor: Lim Hwa merupakan tokoh kunci KAPF dan kemudian membelot ke Korea Utara setelah Pembebasan 1945. Pada 1953 ia dieksekusi di Pyongyang dalam pengadilan faksi Park Heon-yeong dengan tuduhan "mata-mata Amerika". Karyanya tetap dilarang di Korea Selatan hingga 1988. Pembaca Muslim Indonesia disarankan membaca puisi ini dengan sikap kritis sebagai catatan estetik gerakan sastra Korea masa kolonial, bukan sebagai justifikasi ideologi politik.
현해탄(玄海灘)
Lim Hwa · Korea
Puisi judul kumpulan «Hyeonhaetan» (현해탄, 1938) karya Lim Hwa (1908~1953), tokoh pimpinan KAPF (Federasi Seniman Proletar Korea).
Catatan Editor Pagera
Puisi judul kumpulan «Hyeonhaetan» (현해탄, 1938) karya Lim Hwa (1908~1953), tokoh pimpinan KAPF (Federasi Seniman Proletar Korea). Diterbitkan oleh Donggwang Seorim 1938. Puisi bebas 19 bait 100 baris yang ditulis 3 tahun setelah pembubaran paksa KAPF (1935) dan merupakan puisi inti dalam kumpulan puisi pertama Lim Hwa. Merupakan retrospeksi puncak masa studi penyair di Tokyo (1926~1928) dan refleksi nasib pemuda Korea kolonial. Memuat seruan «Pemuda-pemuda!» (청년들아!) + nama tempat «Hyeonhaetan» (玄海灘, selat sempit antara Korea-Jepang) + «Gwanmun Haehyeop» (關門海峽, Selat Shimonoseki Jepang sebagai pengelakan sensor melalui huruf han-ja) + «Samdeung-seonsil» (삼등선실, kelas tiga kapal sebagai status buruh/mahasiswa Korea kolonial) + «kata-kata luar» (외방 말, bahasa Jepang sebagai pengelakan sensor) + kata serapan «Mont Blanc» + perumpamaan «kain duka hitam» (喪帳) untuk pemakaman + seruan 5 generasi «Tahun 1890-an~1940-an~19XX-an» (Donghak·Pemberontak·3.1·KAPF·masa depan) + anafora 4 kali «Ada orang yang...» pada bait penutup (yang menyeberang tak kembali/kembali lalu mati/hilang sama sekali/kalah) + seruan akhir «Oh! Hyeonhaetan» + perumpamaan «lebih ringan dari batu kerikil» untuk tekad pemuda + akhir masa depan «Ketika bintang fajar memantulkan nama-nama kalian». Bait penutup c1-p019 «Namun kami masih / berada di atas gelombang tinggi laut ini» = puncak nafas keputusan tahun 1938. Setelah puisi naratif pendek «Kakakku dan Tungku Api» (1929) yang berbentuk surat keluarga, karya ini merupakan puncak puisi Lim Hwa dengan skala lintas generasi dan historis yang menggambarkan nasib pemuda Korea kolonial dalam puisi judul kumpulan «Hyeonhaetan». Catatan editor: Lim Hwa merupakan tokoh kunci KAPF dan kemudian membelot ke Korea Utara setelah Pembebasan 1945. Pada 1953 ia dieksekusi di Pyongyang dalam pengadilan faksi Park Heon-yeong dengan tuduhan "mata-mata Amerika". Karyanya tetap dilarang di Korea Selatan hingga 1988. Pembaca Muslim Indonesia disarankan membaca puisi ini dengan sikap kritis sebagai catatan estetik gerakan sastra Korea masa kolonial, bukan sebagai justifikasi ideologi politik.
Kata-kata yang paling sering muncul di Bab 1. Lihat sekilas sebelum membaca akan membantu memahami alur teks. (Tanpa kata henti)

Status terjemahan
Buku lain dari penulis ini
Pertanyaan yang sering diajukan
Yes — completely free. This book is in the public domain, so Pagera offers the full text without payment or account requirement. Pagera is funded by advertising.
Baca gratis
Mulai membaca tanpa perlu mendaftar. Buat akun gratis untuk lebih banyak buku dan fitur.