Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Jongsaeng-gi 1937: Konteks Yi Sang Dua Bulan Sebelum Kematian di Tokyo — Trilogi Otobiografi Korea Modernis

Konteks sejarah dan sastra «Jongsaeng-gi» Yi Sang 1937: trilogi otobiografi 1936-1937, kutipan klasik Tolstoi-Maupassant-Dostoevsky-Li Taibai, paronomasia 李箱≡以上, lokasi Dongsomun dan Heungcheonsa, dan kontras dengan realisme Korea kolonial.

Pagera Editorial

Konteks Sejarah dan Sastra «Jongsaeng-gi» (1937)

«Jongsaeng-gi» (종생기, 終生記) karya Yi Sang yang terbit di majalah Chogwang (조광) edisi Mei 1937 adalah karya prosa terakhir sang penyair sebelum kematiannya di Tokyo pada April 1937. Untuk memahami kedalaman karya ini—yang penuh dengan kutipan klasik Tionghoa, nama-nama Rusia, dan paronomasia Korea-Jepang—penting memahami lima konteks berikut.

1. Konteks Biografis: Dua Bulan Sebelum Kematian

Pada Februari 1937, Yi Sang ditangkap polisi Tokyo atas tuduhan «pemikiran kiri» (shisō hanzai) dan ditahan di Penjara Nishi-Kanda. Karena kesehatannya yang sudah hancur oleh tuberkulosis paru, ia dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas Imperial Tokyo, dan meninggal pada 17 April 1937.

«Jongsaeng-gi» yang naskahnya dikirim dari Tokyo ke majalah Chogwang dan terbit Mei 1937sebulan setelah kematian Yi Sang—merupakan karya posthumous secara harfiah. Yi Sang seakan-akan menulis catatan akhir hidupnya saat ia sendiri sudah tahu bahwa ia akan mati. Inilah yang membuat meta-fiksi «pemakaman diri-sendiri» dalam cerpen ini terasa demikian getir.

2. Konteks Sastra: Trilogi Otobiografi Yi Sang 1936–1937

«Jongsaeng-gi» adalah bagian dari trilogi otobiografi prosa Yi Sang:

Cerpen Tahun Majalah Sosok perempuan Mode narasi
«Sayap» (날개) Sept 1936 Chogwang «aku-perempuanku» (anonim/fiktif) Aliran kesadaran psikologis
«Bongbyeolgi» (봉별기) Des 1936 Yeoseong Geumhong (錦紅, gisaeng nyata) Otobiografi telanjang
«Jongsaeng-gi» (종생기) Mei 1937 Chogwang Jeonghui (貞姫, semi-fiktif) Meta-fiksi pemakaman

Ketiga karya ini mengisahkan hubungan Yi Sang dengan perempuan yang menjual seks—baik gisaeng (Geumhong dalam «Bongbyeolgi») atau perempuan tak-bernama yang menerima tamu lelaki (di «Sayap» dan «Jongsaeng-gi»). Yi Sang tidak menghakimi perempuan-perempuan ini secara moral, melainkan mengakui ketidakmampuannya sendiri untuk hidup di dunia ekonomi normal. Dalam «Jongsaeng-gi», Jeonghui yang adalah «perawan yang berzina» justru digambarkan sebagai peer intelektual narator—sama-sama mahir berpura-pura.

3. Konteks Intertekstual: Enam Lapis Kutipan dalam Satu Cerpen

«Jongsaeng-gi» padat dengan kutipan literer yang menjadi alat bagi Yi Sang untuk membongkar perpustakaan-mentalnya menjelang mati:

3.1. Tolstoi («Leuochka»)

Narator mengejek kematian Tolstoi (1910)—yang setelah keluar dari rumah dan menggelandang menuju Astapovo, sempat membisikkan pesan-pesan terakhir yang dianggap «meruntuhkan tujuh-puluh-tahun reputasi». Ini referensi terhadap insiden 1910 saat Tolstoi keluar dari Yasnaya Polyana dan mati di stasiun kecil.

3.2. Maupassant («Boule de Suif»)

Saat menggambarkan keluarga Jeonghui yang menjual anak perempuan ke pelacuran, Yi Sang berkata «Bayangkan saja 'Boule de Suif' karya Maupassant». «Boule de Suif» (1880) adalah cerpen tentang pelacur Élisabeth Rousset yang dipaksa rekan-rekan perjalanannya melayani perwira Prussia—simbol penghianatan kelas borjuasi terhadap perempuan yang tubuhnya dijual.

3.3. Dostoevsky dan Gorky

Suara hantu yang mencemooh Yi Sang berkata: «mampirlah ke 'Saudara Karamazov' atau '40 tahun'»—mengacu pada Dostoevsky («Saudara Karamazov», 1880) dan kemungkinan Gorky («My Universities» 1923 atau «40 Tahun» yang merupakan tetralogi). Pesan: «orang lain juga menderita seperti kau—jadi tutup mulut.»

3.4. Li Taibai (李太白)

Dua baris syair Tang: 백구는 의백사하니 막부춘초벽하라 («burung camar putih seharusnya hinggap di pasir putih—jangan menuju rumput hijau musim semi»). Sebenarnya bukan dari Li Bai (701–762) langsung, tetapi merupakan baris standar dari tradisi puisi pentameter (五言絶句). Yi Sang dengan sengaja salah-atribut—sesuai dengan ajaran yang ia berikan tepat sesudahnya: «aku harus melakukan satu kesalahan tenang-luar-biasa sekitar satu aksara».

3.5. Tao Yuanming dan Du Fu («귀불귀 歸不歸»)

Pada baris monolog «Pulang-atau-tidak-pulang—apa artinya?» Yi Sang merujuk pada motif klasik Tionghoa yang berakar pada Tao Yuanming «Pulang Pulang Pulanglah» (歸去來辭) dan Du Fu «Pulang Pulang Pulang—rambut sudah memutih». Motif kepulangan-yang-tidak-pasti ini bersifat Daoist.

3.6. Hamlet (implisit)

Frase «Hamlet (mohon maaf atas kelancangan) yang serba-baru tiada tara» bersembunyi di tengah teks—Yi Sang melihat dirinya sebagai Hamlet kolonial-Korea yang pose-tragisnya jadi parodi.

4. Konteks Geografis: Dongsomun dan Heungcheonsa

Dua lokasi nyata di Seoul kolonial menjadi panggung «Jongsaeng-gi»:

4.1. Dongsomun (東小門, Gerbang Kecil Timur)

Adalah Gerbang Hyehwa (혜화문), salah satu dari delapan gerbang Kota Seoul. Pada 1937, kawasan ini adalah kawasan permukiman baru (sin-gae-ji) yang sedang berkembang di luar tembok kota—pertemuan antara desa-tradisional dan kota-modern. Yi Sang sengaja memilih Dongsomun (bukan gerbang utama Namdaemun atau Dongdaemun) karena kawasan ini melambangkan liminitas spasial: tidak benar-benar di dalam, tidak benar-benar di luar.

4.2. Heungcheonsa (興天寺, Kuil Penyambutan-Langit)

Adalah kuil Buddha dari tahun 1397 yang didirikan oleh Raja Taejong dari Dinasti Joseon untuk istrinya. Pada 1937, kuil ini adalah kuil yang sepi di luar kota Seoul, terkenal sebagai tempat sembunyi para penyair, intelektual, dan pasangan yang ingin menghilang sebentar. Pilihan Yi Sang dan Jeonghui untuk minum-mabuk di sini sangat meaningful: kuil bukan untuk berdoa, melainkan untuk pengkhianatan.

5. Konteks Yi Sang vs Tradisi Sastra Korea

«Jongsaeng-gi» tampil berlawanan secara radikal dengan dua tradisi sastra Korea kontemporer 1937:

5.1. Vs Realisme Sosial (Hyun Jin-geon, Yi Sang Hwa, Yom Sang-seop)

Realisme sosial Korea 1920-an–30-an (lihat «Hari yang Beruntung» Hyun Jin-geon 1924) menggambarkan penderitaan rakyat di bawah kolonialisme Jepang dengan empati dan kemarahan. «Jongsaeng-gi» justru tidak menyebut kolonialisme sama sekali secara eksplisit—Yi Sang lebih tertarik pada kekosongan batin dari seorang seniman yang tahu bahwa ia akan mati muda dan tak berhasil hidup.

5.2. Vs Sastra Pro-Kemanusiaan (Yi Kwang-su, Yom Sang-seop)

Tradisi pro-kemanusiaan ala Yi Kwang-su («Tanpa Cinta», 1917) membangun pahlawan-protagonis yang berjuang untuk membangun bangsa. Yi Sang melemparkan anti-pahlawan—seorang lelaki yang mengakui bahwa ia «tidak pernah melihat tanaman padi» (c2-p135).

5.3. Vs Sastra Romansa Modern (Park Tae-won, Lee Hyo-seok)

Walaupun Yi Sang sezaman dengan Park Tae-won («Kuib-ssi-ui Iril», 1934) dan Lee Hyo-seok («Mahnyu-kkot Pil Mu-ryeop», 1936), Yi Sang melangkah lebih jauh—bukan hanya menggambarkan kota modern, tetapi membongkar struktur bahasanya sendiri.

Mengapa «Jongsaeng-gi» Penting bagi Pembaca Indonesia Hari Ini

Bagi pembaca Indonesia, «Jongsaeng-gi» menawarkan:

  1. Akses ke akar modernisme Asia: Bukan adaptasi dari Barat, tetapi mode-modernis-asli yang muncul dari kolaps kolonial-Korea.
  2. Tipologi cinta-pengkhianatan: Hubungan Yi Sang–Jeonghui—di mana keduanya saling tahu sedang berpura-pura—relevan bagi pembaca yang familier dengan satire kontemporer (Mochtar Lubis, Iwan Simatupang).
  3. Permainan-aksara antar-bahasa: Paronomasia 李箱 (Yi Sang) ≡ 以上 (selesai) adalah teknik yang serupa dengan kalimbur dalam pantun Melayu—lapisan makna yang bersembunyi di balik fonetik.
  4. Catatan editor untuk pembaca Muslim: Cerpen ini memuat anggur, kemabukan, dan singgungan ringan terhadap relasi gisaeng-pelanggan. Konten dipertahankan utuh sebagai dokumen sejarah modernisme Korea pada masa kolonial Jepang 1937.

Baca «Jongsaeng-gi» lengkap dalam dwibahasa Korea-Indonesia →

Bacaan Terkait

Kembali ke Pagera